SILAHKAN KLIK DAFTAR LABEL DI BAWAH INI UNTUK BISA MELIHAT ISI POSTING SELENGKAPNYA TERIMA KASIH

JALANI HIDUP INI APA ADANYA, SYUKURI APA YANG ADA DAN TERUS BERUSAHA UNTUK MENJADI LEBIH BAIK

Jumat, 26 Oktober 2012

SABLI.COM: MAKALAH TENTANG PENGERTIAN IBADAH



MAKALAH TENTANG PENGERTIAN IBADAH

العبادة



تعريف العبادة

A. DEFINISI / PENGERTIAN IBADAH
Arti Ibadah ( العِبَادَةُ ) secara bahasa adalah tunduk dan menghinakan diri serta khusyu’. Di dalam kamus Al Mu’jam Al Wasith ibadah artinya ”tunduk kepada Tuhan yang menciptakan”.
Imam Al Qurthuby berkata :
 ”Asal ibadah ialah tunduk dan menghinakan diri”.
Secara istilah arti ibadah adalah sebagaimana  perkataan Ibnu Katsir : “Ibadah adalah taat kepada Allah dan melaksanakan hal-hal yang diperintahkan dan menjauhi hal-hal yang dilarang”. Kemudian    Ibnu Taimiyah berkata :
“Ibadah ialah taat kepada Alloh dengan melaksanakan  yang diperintahkan sesuai dengan lisan para rasul”. Beliau juga berkata : “Ibadah ialah sesuatu yang mencakup semua perkara yang dicintai dan diridhoi Allah berupa perkataan atau perbuatan yang nampak atau pun tidak nampak”.

حكم العبادة

B. HUKUM IBADAH
Hukum asal dari ibadah adalah haram kecuali ada dalil. Maksudnya adalah semua bentuk ibadah adalah haram untuk dikerjakan kecuali kalau ada dalil yang mewajibkannya atau mensunahkannya. Seperti sholat, puasa, zakat, haji adalah haram dikerjakan pada asalnya, namun dikarenakan ada dalil yang mewajibkannya maka hukumnya menjadi wajib untuk dikerjakan.
Dalil tentang wajib sholat dan zakat, firman Allah I :
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
“Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat”
( QS. Al Baqoroh : 83 )
Dalil tentang kewajiban puasa, firman Allah I  :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan
 atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” ( QS. Al Baqoroh : 183 )
Dalil tentang kewajiban haji, firman Allah I
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”  ( QS. Ali ‘Imran : 97 )
Kemudian sabda Nabi r :
بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَحَجِّ الْبَيْتِ
“Islam terbangun atas lima perkara : persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan persaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul –Nya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa romadhon dan pergi haji”. ( HR. Bukhari dan Muslim)

Hukum ibadah terbagi menjadi 5 macam :
1.     WAJIB ( اَلْوَاجِبُ / اَلْفَرْضُ ) artinya apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.
2.     SUNAH ( اَلسُّنَّةُ / اَلْمُسْتَحَبُّ ) artinya apabila dilakukan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak apa-apa (tidak mendapat dosa)
3.     HARAM ( اَلْحَرَامُ ) artinya apabila dilakukan mendapat dosa dan ditinggalkan mendapat pahala.
4.     MAKRUH ( اَلْمَكْرُوْهُ ) artinya apabila dilakukan tidak mendapat dosa dan apabila ditinggalkan mendapat pahala.
5.     MUBAH ( اَلْمُبَاحُ ) artinya apabila dilakukan tidak mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat dosa.

شروط قبول العبادة

C. SYARAT DITERIMANYA IBADAH
Peribadatan seorang hamba akan diterima Allah I apabila telah memenuhi 2 syarat, yaitu :
1.       IKHLAS  ( اَلإِخْلاَصُ )
Ikhlas merupakan salah satu makna dari syahadat (  أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ) yaitu agar menjadikan ibadah itu murni hanya ditujukan kepada Allah semata. Allah I berfirman :
وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”.
(QS. Al Bayyinah : 5)
فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan (mu) untuk-Nya.”
 (QS. Az Zumar : 2)
Kemudian Rasulullah r bersabda :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
Lawan daripada ikhlas adalah syirik (menjadikan bagi Allah tandingan di dalam beribadah atau beribadah kepada Allah tetapi juga kepada selain-Nya). Contohnya : riya’(memperlihatkan amalan), sum’ah (memperdengarkan suatu amalan) ataupun ujub (berbangga diri dengan amalannya). Kesemuanya itu adalah syirik yang harus dijauhi oleh seorang hamba agar ibadahnya itu diterima oleh Allah I .
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad r :
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syrik kecil”, para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apa itu syirik kecil ? Rasulullah menjawab : “Riya’”. (HR. Ahmad)
Kemudian firman Allah I tentang larangan syirik :
فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kalian mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh : 22)

2. MUTABA’AH ( اَلْمُتَابَعَةُ )
Mutaba’ah (Mengikuti Tuntunan Nabi Muhammad r) merupakan salah satu dari makna syahadat (أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ) yaitu agar di dalam beribadah harus sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad r . Setiap ibadah yang diadakan secara baru yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad r maka ibadah itu tertolak, walaupun pelakunya tadi seorang muslim yang mukhlis. Sesungguhnya Allah I memerintahkan kepada kita untuk mengikuti Nabi Muhammad r  dalam segala hal, dengan firman-Nya :
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. Al Hasyr : 7)

Rasulullah r juga telah memperingatkan agar meninggalkan segala perkara ibadah yang tidak ada contohnya dari beliau, sabda beliau :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada urusannya dari kami maka amal itu tertolak”. (HR. Muslim)

Itulah tadi dua syarat yang menjadikan ibadah seseorang diterima oleh Allah I, sebagaimana firman-Nya :
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا
وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. 
(QS. Al Kahfi : 110)
Berkata Ibnu Natsir di dalam menafsirkan ayat ini :
“Inilah 2 landasan amal yang diterima, harus ikhlaS
BACA SELENGKAPNYA  
KLIK DI SINI
s karena Allah dan sesuai benar dengan syari’at Rasulullah r  
Jadi kedua syarat ini haruslah ada dan tidak boleh terpisahkan satu dan yang lainnya.
Mengenai hal ini berkata Al Fudhoil bin ‘Iyadh :
“Sesungguhnya andaikata suatu amalan itu ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai dengan syari’at), maka amalan itu tidak diterima. Dan andaikata benar tapi tidak ikhlas, juga tidak diterima, hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas semata karena Allah dan benar apabila sesuai dengan sunnah”.
Maka barang siapa mengerjakan suatu amal dengan didasari ikhlas karena Allah semata dan cocok dengan sunah Rasulullah r niscaya amal itu akan diterima oleh Allah. Akan tetapi kalau hilang salah satu dari dua syarat tersebut, maka amal itu akan tertolak dan tidak diterima oleh Allah I. Hal inilah yang sering luput dari perhatian orang banyak karena hanya memperhatikan satu sisi saja dan tidak  memperdulikan yang lainnya. Oleh karena itu sering kita dengar mereka mengucapkan : “yang penting niatnya, kalau niatnya baik maka amalnya akan baik”.
Perlu diketahui bahwa mutaba’ah tidak akan tercapai kecuali apabila amal yang dikerjakan sesuai dengan syari’at dalam 6 perkara, yaitu :
A.      SEBAB ( اَلسَّبَبُ )
Jika seseorang melakukan suatu ibadah kepada Allah dengan sebab yang tidak di syari’atkan, maka ibadah tersebut adalah bid’ah dan tertolak. Contohnya ada orang melakukan sholat Tahajjut khusus pada malam 27 Rajab dengan dalih bahwa malam itu adalah malam Mi’rajnya Nabi Muhammad (dinaikkan ke langit). Sholat Tahajjut adalah ibadah yang dianjurkan, tetapi karena dikaitkan dengan sebab tersebut maka ia menjadi bid’ah.
B.      JENIS ( اَلْجِنْسُ )
Ibadah harus sesuai dengan syari’at dalam jenisnya. Contohnya bila seseorang menyembelih kuda pada hari Iedul Adha untuk korban, maka hal ini tidak syah karena jenis yang boleh dijadikan untuk korban adalah unta, sapi dan kambing.
C.      BILANGAN ( اَلْعَدَدُ )
Kalau ada orang yang menambahkan rokaat sholat yang menurutnya hal itu diperintahkan, maka sholatnya itu adalah bid’ah dan tidak diterima. Jadi apabila ada orang yang sholat Dhuhur 5 rokaat dengan sengaja maka sholatnya tidak diterima.
D.      CARA ( اَلْكَيْفِيَّةُ )
Seandainya ada orang berwudhu dengan membasuh kaki terlebih dulu baru kemudian muka, maka wudhunya tidak syah karena tidak sesuai dengan cara yang telah disyari’atkan.
E.       WAKTU ( اَلزَّمَانُ )
Apabila ada orang yang menyembelih korban pada hari raya Idul Fitri maka tidak syah karena tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh syari’at yaitu pada hari raya Idul Adha.
F.       TEMPAT ( اَلْمَكَانُ )
Apabila ada orang yang menunaikan ibadah haji di tempat selain Baitulah Masjidil Haram di Mekah, maka tidak syah hajinya. Sebab tempat untuk melaksanakan ibadah haji adalah di Masjidil Haram saja.
Maka dengan memperhatikan enam perkara tersebut, maka kita dapat mencocokkan apakah amalan kita sudah sesuai dengan syariat atau tidak.

أركان العبادة

D. RUKUN IBADAH
Ibadah terdiri dari 3 rukun, yaitu :
1.     CINTA DAN KASIH SAYANG (  اَلْمَحَبَّةُ  )
Rasa cinta harus tumbuh pada saat melakukan ibadah sehingga akan dapat merasakan   nikmatnya ibadah dan lezatnya iman. Allah I berfirman :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah”.
(QS. Al Baqoroh : 165)
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang”. (QS. Maryam : 96)
Kemudian Rasulullah  r bersabda :
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara, apabila tiga perkara itu terdapat pada diri seseorang, maka ia akan merasakan lezatnya iman. Tiga perkara itu adalah :
-   Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya.
-   Mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah.
-   Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran sebagaimana bencinya dilemparkan ke dalam api”. 
(HR. Bukhary dan Muslim)

Al Hasan Al Bashri (seorang tabi’in) berkata :
“Ada suatu kaum yang menyangka bahwa mereka mencintai Allah I, maka Allah memberikan ujian dan cobaan kepada mereka (apakah mereka) benar-benar mencintai Allah atau tidak, jika bersabar berarti mereka benar-benar mencintai Allah dan jika mereka tidak bersabar berarti mereka tidak mencintai Allah) sebagaiman firman Allah I :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah : “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran : 31)
Ayat ini menunjukan bahwa salah satu tanda atau bukti kecintaan kepada Allah adalah ittiba’ (mengikuti Rasululllah r) .
2.     BERHARAP (  اَلرَّجَاءُ  )
Seorang hamba yang beribadah kepada Allah harus mengharap pahala dan kedudukan yang mulia di sisi-Nya, sehingga dia tidak berputus asa di dalam ibadah. Yang demikian itu dapat ditempuh dengan cara berusaha untuk mentaati segala perintah-Nya agar mendapatkan atau bertaubat dari segala dosa agar diberi ampunan serta berkeinginan keras di dalam mendapatkan tambahan kebaikan-Nya. Allah I berfirman :
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas”. (QS. Al Anbiyaa’ : 90)
Bahkan Allah I mensifati orang yang tidak mengharap rahmat-Nya sebagai orang yang sesat, sebagaimana termaktub di dalam AlQur’an.
قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ
Ibrahim berkata : “Tidak ada orang-orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.
(QS. Al Hijr : 56)
Kemudian Allah I mensifati orang-orang yang beriman sebagai orang-orang yang selalu mengharap rahmat Allah I. Hal ini sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
(QS. Al Baqoroh : 218)
3.     CEMAS DAN TAKUT (  اَلْخَوْفُ  )
Selain kecintaan dan pengharapan, seorang hamba harus menyertakan rasa cemas dan takut di dalam beribadah. Maksudnya, merasa takut apabila amalan ibadahnya tidak diterima oleh Allah I dan merasa takut terhadap adzab Allah I dan siksa api neraka yang pedih. Allah I berfirman :
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (kalau tidak diterima amalannya)”. (QS. Al Mukminun : 60)
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
“Sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti”
(QS. Al Israa’ : 57)
Seorang muslim tidaklah takut kepada selain Allah, walaupun orang-orang menyangka bahwa sesembahan mereka (selain Allah) itu dapat memberikan musibah (seperti sakit, miskin, mati dan lain-lain) dan dapat memberikan manfaat (seperti syafaat di akherat, rezeki, kesembuhan dan lain-lain). Tidak boleh seorang muslim takut kepada sembahan-sembahan selain Allah, karena itu merupakan masalah Uluhiyah. Barang siapa menjadikan Allah tandingan-tandingan dan takut kepadan-Nya maka itu termasuk suatu perbuatan syirik. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim :
وَلاَ أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا أَفَلاَ تَتَذَكَّرُونَ (80) وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلاَ تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِاْلأََمْنِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali di kala Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran darinya ? Bagaimana aku takut kepada sesembahan yang kamu persekutukan dengan Allah padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sesembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan dari malapetaka jika kamu mengetahui ?” 
(QS. Al An’am : 80 – 81)
Seorang mukmin akan merasa takut kepada ancaman Allah yang disediakan bagi orang-orang yang bermaksiat. Rasa takut itu akan menunjukkan ke jalan menuju surga dan kenikmatannya. Allah I berfirman :
ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ
“Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku”. (QS. Ibrahim : 14)

أنواع العبادة

E. MACAM-MACAM IBADAH
Apabila ditinjau dari beberapa segi, ibadah itu sangat luas. Allah menjadikan ibadah itu bermacam-macam sesuai dengan sudut pandangnya.

Adapun macam-macam ibadah ialah :
1.     IBADAH DENGAN KEYAKINAN
Ibadah dengan keyakinan adalah pondasi terpenting yang harus ditanam kan pada diri seorang muslim. Ia harus berkeyakinan bahwa Allah I adalah Rabb yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakan, yang berkuasa atas penciptaan dari segala perkara, yang bisa memberikan manfaat dan madharat, yang tidak ada sesembahan kecuali Dia. Allah I berfirman
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
“Katakanlah : Dia-lah Allah Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada seorang pun yang setara (sebanding) dengan-Nya.”.
(QS. Al Ikhlash : 1 - 4)
خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِالْحَقِّ تَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dia menciptakan langit dengan bumi dengan hak. Maha tinggi Allah dari segala sesuatu yang mereka persekutukan”.
(QS. An Nahl : 3)
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ
“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia”.
(QS. Al Israa’ : 23)

Seorang muslim harus berkeyakinan  bahwa segala sesuatu  yang terjadi di dunia ini  telah ditakdirkan oleh Allah I dan tidak seorang pun yang dapat merubahnya.
Allah I berfirman :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي اْلأََرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
 “Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula  pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh AlMahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah”. (QS. Al Hadid : 22)
Kemudian Rasulullah r bersabda :
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim)
2.     IBADAH DENGAN HATI
Ibadah dengan hati atau amalan hati tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah, karena hal itu akan menjerumuskan pelakunya kepada syirik.
Adapun macam-macam amalah hati adalah
a.       Kecintaan  (  اَلْمَحَبَّةُ  )
Kecintaan tidak akan baik kecuali hanya untuk Allah. Kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya akan membuahkan kecintaan dari Allah. Firman Allah I  :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan diantara manusia ada yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sanga cinta kepada Allah”
(QS. Al Baqoroh : 165)
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah (Wahai Muhammad) : Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutillah aku, niscaya Allah mengasihi (mencintai) dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.  Ali ‘Imran : 31)
b.       Tawakal (  اَلتَّوَكُّلُ  )
Tawakal adalah menyadarkan segala sesuatu kepada Allah setelah menempuh segala sebab-sebab yang mengantarkan kepada maksud yang dituju. Firman Allah I 
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman”. (QS. Al Maidah : 23)
c.       Niat (  اَلنِّيَّةُ  )
Niat harus selalu disertakan di dalam setiap amalan. Karena niat itu adalah amalan hati maka tidak perlu seorang muslim selalu mengucapkan niatnya dengan keras pada setiap amalan. Rasululah r bersabda :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya seorang itu akan mendapat hasil dari apa yang ia niatkan”. (HR. Bukhary dan Muslim)
d.       Takut ( اْلْخَوْفُ   )
Seorang muslim hanyalah takut kepada Allah saja, dan tidaklah pantas untuk takut kepada selain-Nya seperti manusia, jin dan lain sebagainya. Firman Allah I  :
فَلاَ تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
“Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku”
(QS. Al Maidah : 44)
e.       Berharap (  اَلرَّجَاءُ  )
Seorang muslim selalu mengharapkan rohmat Allah di dalam melakukan ibadah, sehingga ia tidak menjadi orang yang berputus asa. Firman Allah I  :
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang berfirman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah mereka itu mengharap rahmat Allah, dan Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqoroh : 218)

3.     IBADAH DENGAN LISAN (UCAPAN)
Seperti mengucapkan kalimat syahadat, berdo’a, istighfar (minta ampun), isti’anah (minta pertolongan), isti’adzah (minta perlindungan), istighatsah (minta pertolongan), berdzikir.
Dalil tentang mengucapkan kalimat syahadat, sabda Rasululah r  :
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah” (HR. Bukhary)
Dalil tentang berdo’a firman Allah I :
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman : Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan”.
(QS. Al Mukmin : 60)
Dalil tentang istighfar (minta ampunan), firman Allah I :
وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Dan mohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nisaa’ : 106)
Dalil tentang isti’anah (minta pertolongan), firman Allah I :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Dan hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah : 5)
Dalil tentang istia’adzah (minta perlindungan), firman Allah I :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ  مَلِكِ النَّاسِ
“Katakanlah : Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia, Raja manusia” (QS. An Naas : 1 - 2)
Dalil tentang istighatsah (minta pertolongan), firman Allah I :
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ketika kamu berharap mohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya permohonanmu”. (QS. Al Anfal : 9)
Dalil tentang berdzikir, firman Allah I :
وَاذْكُرْ رَبَّكَ كَثِيرًا وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَاْلإِبْكَارِ
“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” (QS. Ali ‘Imran : 41)

Dan juga termasuk ibadah apabila seorang muslim berkata yang benar dan meninggalkan segala perkataan yang dusta atau jelek. Karena Rasulullah r memerintahkan untuk  berkata jujur dan berkata baik. Beliau bersabda :
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Wajib atas kalian berkata jujur karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu mengantarkan ke surga”.
(HR. Bukhary dan Muslim)
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا
أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan akhir (kiamat) maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhary)

4.     IBADAH DENGAN BADAN
Seperti sholat, puasa, haji, thawaf, jihad dan lain sebagainya.
Dalil tentang sholat, firman Allah I :
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
“Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat”
(QS. Al Baqoroh : 83)
Dalil tentang puasa, firman Allah I :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” ( QS. Al Baqoroh : 183 )
Dalil tentang haji, firman Allah I :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” ( QS. Ali ‘Imran : 97 )
Dalil tentang thawaf, firman Allah I :
وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf di sekeliling rumah yang tua itu (baitullah)”
(QS. Al Hajj : 29)
Dalil tentang jihad, firman Allah I :
فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِاْلآخِرَةِ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang ke jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar “ (QS. An Nisaa’ : 74)

5.     IBADAH DENGAN HARTA
Seperti zakat, shodaqoh, nadzar dan lain sebagainya
Dalil tentang zakat, firman Allah I :
وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَءَاتُوا الزَّكَاةَ
“Dan dirikanlah sholat dan tunaikan zakat”
(QS. Al Baqoroh : 83)
Dalil tentang shodaqoh, firman Allah I :
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu memyembunyikannya dan kamu  berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah menghapuskan darimu dari segala kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
(QS. Al Baqoroh : 271)
Dan nadzar juga termasuk ibadah dengan harta, sebagaimana firman Allah I :
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا
“Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana. (QS. Al Insaan : 7)

غاية العبادة

F. TUJUAN IBADAH
Sesungguhnya Allah I memerintahkan kepada para hamba-Nya agar menyembah dan beribadah kepada-Nya saja. Perintah Allah I ini mencakup seluruh manusia baik muslim, kafir ataupun musyrik. Hal ini dikarenakan Allah-lah yang menciptakan mereka dan Dia-lah satu-satunya tempat mereka bergantung. Allah I  berfirman :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanm yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa”
(QS. Al Baqoroh : 21)
Dengan beribadah kepada Allah saja tidak mensekutukan-Nya di dalam ibadah, niscaya seorang manusia akan menjadi  bertakwa. Dengan beribadah, itu artinya dia telah menjauhkan dirinya dari kebencian dan adzab Allah yang pedih. Hal ini dikarenakan ibadah adalah suatu sebab untuk menjauhkan diri dari  kebencian dan adzab Allah I. Apabila seorang hamba telah menjauhkan dirinya dari kebencian Allah, niscaya ia akan mendapatkan kecintaan-Nya dan akan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Yang demikian itu akan diperoleh dengan cara melaksanakan segala perintah yang datang dari Allah I dan Rasul-Nya r serta meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

G. TUJUAN PENCIPTAAN
JIN dan MANUSIA
Sesungguhnya Allah I menciptakan alam semesta tidaklah dengan sia-sia atau tanpa hikmah di balik penciptaan tersebut. Aka tetapi Allah memiliki maksud dan tujuan yang mulia. Allah I berfirman :
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلاً
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya keduanya tanpa hikmah” (QS. Shaad : 27)
Adapun hikmah dari penciptaan jin dan manusia di alam semesta ini adalah agar mereka beribadah kepada Allah I dan tidak mensekutukan-Nya. Allah I berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku”.
(QS. Adz Dzariyat : 56)
Inilah tujuan yang agung dari penciptaan jin dan manusia, yaitu agar mereka hanya beribadah kepada Allah I. Hal ini menunjukkan bahwa tidaklah Allah  menciptakan mereka karena Allah butuh mereka, akan tetapi justru merekalah yang membutuhkan Allah. Dan ayat ini menunjukkan tentang wajibnya manusia dan jin untuk mentauhidkan Allah dan barang siapa mengingkarinya maka ia termasuk orang yang kafir, yang tidak ada balasan kecuali neraka.

وَاللهُ أَعْلَمٌ بِالصَّوَابِ

B

MARAJI’ (Daftar Rujukan) :
·  Al Madkhol Lidirosatil ‘Aqidah Al Islamiyyah ‘Ala Madzhab Ahlis Sunnah wal Jama’ah
Ad Duktur Ibrahim bin Muhammad AL Buraikan
·  Madkhol Lidirosatil ‘Aqidah Al Islamiyyah
Utsman bin Jum’ah Dhoriyyah
·  Al Ushul Ats Tsalatsah
Muhammad bin Abdul Wahhab           
·  Al ‘Ubudiyyah
Ibnu Taimiyyah
·  Fathul Majid
Abdurrohman bin Hasan Alusy Syaikh
·  Tafsir Al Qura’an Al ‘Adzim
Ibnu Katsir             
·  Tafsirul Karimir Rohman fi Tafsir Kalamil Manan
Abdurrohman bin Nashir As Sa’di
·  Ushulul Fiqh
Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin
·  Al Ibda’ fi kamal asy Syar’i wa khathar al Ibtida’
Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin
·  Mudzakkaroh fil ‘Aqidah
Ad Duktur Sholeh bin Sa’ad As Suhaimy
·  Kitabul Ikhlas
Husain Al ‘Awaisyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar