KELUARGA BESAR PONPES. ITTIHAAD AL-UMAM EGOK MENGUCAPKAN SELAMAT MENGIKUTI UJIAN NASIONAL ( UN ) TANGGAL 14 S/D 16 APRIL 2014 KEPADA SISWA/SISWI MA. ITTIHAAD AL-UMAM EGOK. "SEMOGA MEMPEROLEH KELULUSAN DENGAN NILAI YANG TERBAIK". AMIIIIIN. ADMIN: SABLY EL-ITTIHAD EGOK HP. 081 917 335 600

SILAHKAN KLIK DAFTAR LABEL DI BAWAH INI UNTUK BISA MELIHAT ISI POSTING SELENGKAPNYA TERIMA KASIH

Selasa, 30 Oktober 2012

SABLI.COM: MAKALAH TENTANG METODOLOGI PENDIDIKAN AGAMA


BAB VI
METODOLOGI PENDIDIKAN AGAMA
       
              Pemilihan dan penggunaan metode Pendidikan Agama amat bergantung pada sifat pesan yang disampaikan, tingkat perkembanagan jiwa siswa, potensi sumber-sumber belajar, sosio budaya yang berada di sekitar sekolah dan kreasi guru.
              Sedang langkah-langkah untuk menentukan metode Pendidikan Agama ditentukan oleh bahan Pendidikan Agama (pesan yang disampaikan kepada siswa), dengan berorientasi pada Tujuan Pembelajaran Umum (TPU), dan selanjutnya pada Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) dalam kurikulum. Dari TPK, selanjutnya guru berorientasi kepada pokok bahasan dan selanjutnya dijabarkan pada sub pokok bahasan dari kurikulum Pendidikan Agama.
              Dalam pelaksanaanya hendaknya guru agama memahami secara cermat dan seksama tentang garis besar; dan diskripsi singkat tentang Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam.
              Membahas jenis dan macam metode mengajar, adalah berpijak tentang segi teknis daripada pengajaran. Maka hendaknya difahami; bahwa ada beberapa faktur yang mempengaruhi adanya pelbagai jenis mengajar itu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi metode mengajar itu, antara lain; sebagai berikut: (1). Tujuan Pengajaran; (2). Bahan Pengajaran; (3). Guru/Pendidik; (4). Anak didik; (5). Situasi mengajar; (6). Faktor-faktor lain, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi jenis metode tersebut.
       
1. Tujuan Pengajaran
              Tujuan atau cita-cita; pada hakikatnya menjadi pedoman pokok dalam penggunaan metode pengajaran. Semua metode apapun harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, dan bukanya sebaliknya. Oleh karena itu, dalam memilih metode hendaknya disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dengan menggunakan metode tersebut. Guru yang bercita-cita mendidik dan mengajar anak untuk menjadi manusia beragama, berakhlak serta bertakwa,perlu menyesuaikan metode mendidik/mengajar agama dengan cita-cita tersebut, misalnya dengan menerapkan metode kelompok dalam praktek ibadah atau dialog dalam pelajaran agama dan lain sebagainya.
       
2. Bahan Pelajaran
              Yakni; materi pelajaran yang hendak disajikan; apakah mengingat isi dan mutunya memang telah sesuai dengan kematangan serta kesiapan mental anak; di samping itu mengingat pula sifat bahan pelajaran itu sendiriharus pula disajikan dengan suatu jenis metode yang sesuai pula, misalnya; bahan pelajaran yang mengandung rangkaian banyak problema, menghendaki metode problem solving (pemecahan masalah) dan mungkin, juga metode proyek, diskusi dan lain sebagainya.
       
3. Guru/Pendidik
              Yakni; kemampuan guru sendiri dalam hal penguasaan terhadap pelbagai metode; adalh merupakan faktor yang menentukan, efektif tidaknya penggunaan metode yang dipilih. Apabila guru tidak lancar dalam berbicara, maka janganlah mengunakan metode ceramah, melainkan gunakanlah metode lain yang tidak memerlukan banyak bicara; yaitudengan .op
        bmengunakan keaktifan kepada murid itu sendiri. Misalnya; metode diskusi, problem solving, peragaan dan lain sebagainya.
       
4. Anak didik
              Maksudnya kondisi murid/anak didik; apakah mereka memiliki mtingkat kemampuan dalam memberikan response terhadap mereka, misalnya dalam menggunakan metode diskusi, murid dituntut memiliki pengetahuan siap (paraat) tentang bahan pelajaran yang akan didiskusikan, di samping kemampuan untuk menyampaikan analisis dengan bahasa yang memadai. Maka penerapan suatu metode perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan psikologis kematangan pribadi murid/anak didik.
       

5. Situasi mengajar
              Maksudnya, situasi atau sekitar; dalam mana anak didik sedang melaksanakan kegiatan belajar; juga menuntut penerapan metode yang berlainan sesuai dengan yang diperlukan. Dalam situasi udara panas misalnya; apabila guru menggunakan metode ceramah, sudah barang tentu tidak akan mendapatkan response belajar yang optimal, melainkan akan sia-sia belaka. mak, seharusnya menggunakan metode peragaan dengan melalui metode sosiodrama atau psikodrama. Akan tetapi sebaliknya, apabila situasi murid sedang berada dalam kondisi semangat yang tinggi dalam kegiatan belajar, maka metode ceramah bisa juga efektif terhadap mereka. Juga, lebih tepat apabila guru menerapkan metode diskusi. Karena dengan diskusi, mereka akan memperoleh kesempatan untuk secara bebas mengeluarkan buah pikiranya serta mengembangkan kepribadiannya.
       
6.   Faktor-faktor lain, yang secara langsung atau tidak   langsung dapat mempengaruhi jenis metode tersebut
              Maksudnya; bahwa sehubungan dengan faktor guru tersebut di atas, ada faktor lainnya yang juga mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Misalnya; pandangan hidup guru itu sendiri. Apabila dia seorang guru yang berpaham demokrasi Liberal, maka biasanya lebih banyak memberikan kebebasan luas kepada murid-muridnya dengan melalui metode diskusi atau tanya jawab, metode proyek dan lain sebagainya. Akan tetapi apabila guru tersebut berpaham otoriter, maka ia akan lebih suka memilih" metode one show" yaitu berpidato, ceramah atau kuliah. Dalam mana efek paedagogisnya adalah tidak memberikan kesempatan kepada anak didik, untuk mengembangkan kepribadiannya, serta membuat anak bersikap pasip.
              Dengan demikian jelas, bahwa guru agama seyogyanya memahami dan mengetahui pelbagai macam metode mengajar agama, agar dapat menyesuaikan metode yang dipilihnya, sesuai dengan faktor-faktor tersebut di atas, sehingga menjadi pendidikan yang dinamis dan flexible menurut pelbagai situasi dan kondisi yang dihadapinya.
              Metode-metode Pendidikan Agama itu, antara lain disajikan di bawah ini:
         1. Metode ceramah
         2. Metode Tanya Jawab
         3. Metode diskusi/Musyawarah atau sarasehan
         4. Metode Tugas
         5. Metode Permainan dan Simulasi (Game and Simulation).
         6. Metode Latihan Siap
         7. Metode Demonstrasi dan Experimen
         8. Metode Karya Wisata atau sinau Wisata
         9. Metode Kerja Kelompok
        10. Metode Sosiodrama dan Bermain Peran
        11. Metode Sistem Mengajar Beregu (Team Teaching)
        12. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving).
        13. Metode Proyek dan Unit
        14. Metode Uswatun Hasanah.
        15. Metode Anugerah.
      
1. Metode Ceramah
                  Metode ceramah atau metode khotbah, yang oleh sebagian para ahli, metode ini disebut "one man show method" adalah suatu cara penyampaian bahan pelajaran secara lisan oleh guru didepan kelas atau kelompok. Maka, peranan guru dan murid berbeda secara jelas, yakni bahwa guru, terutama dalam penuturan dan penerangganya secara aktif, sedangkan murid mendengarkan dan mengikuti secara cermat serta membuat catatan tentang pokok masalah yang diterangkan oleh guru. Dalam bentuk yang lebih maju, untuk penjelasan uraian, guru dapat menggunakan metode ini dengan memakai alat-alat pembantu seperti; gambar-gambar, peta, filem, slide, dan lain sebagainya. Namun demikian, yang utama tetap penerangan secara lisan.
                  Nabi Musa dalam menggunakan metode ini, mohon kepada Allah SWT., untuk dapatnya lancar dalam berbicara dan disembuhkan dari sakit lidahnya. Maka, Musa berdoa:
قال رباشرحلى صدرى * ويسرلى أمرى * واحلل عقدة من لسانى * يفقهوا قولى *                             
              "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku dan  lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku". (QS. Thaha: 25-28).
Metode ceramah sebagai metode mengajar yang paling tua umurnya dan paling banyak digunakan di sekolah-sekolah dapat dipandang sebagai cara yang paling mengena bagi usaha untuk penyampaian informasi; oleh karena memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
a.   Biayanya murah, sebab alat-penyampai (media) bahan pelajaran hanyalah suara guru.
b.   Dapat menyajikan bahan pelajaran kepada sejumlah besar murid (kelas) dalam waktu yang sama.
c.   Mudah mengulang kembali jika diperlukan.
d.   Ceramah atau uraian guru yang dibawakan dengan baik dapat menjadikan pokok pembicaraan menjadi menarik. sebab, kata-kata yang diucapkan sering kali lebih efektif, lebih mengena lebih hidup daripada kata-kata yang tertera di atas kertas. Mimik serta gerakan-gerakan guru dapat memberikan isi pengertian yang tepat dari suatu kata atau kalimat yang diucapkan. Dengan demikian suatu uraian dapat benar-benar dijiwai, menjadi hidup dan menarik perhatian murid. Juga, apabila ada peristiwa-peristiwa yang serius, khidmat dan harus diingat baik-baik oleh murid, semuanya dapat diingatkan melalui pengaturan suara guru.
e.   Metode ceramah, memberikan kesempatan pengalaman kepada murid-murid untuk belajar mendengarkan suatu uraian secara lisan. Sebab, dalam kehidupan orang dewasa, belajar mendengarkan dan memahami suatu pembicaraan, adalah penting dan banyak dijumpai dalam kegiatan hidup sehari-hari. Anak didik harus dipersiapkan untuk menghadapi situasi-situasi seperti itu.
f.    Metode ceramah dapat memberikan kesempatan pada murid-murid untuk memperoleh latihan mendengarkan dan membuat catatan-catatan singkat.
g. Bahan ceramah yang disiapkan dengan baik dandisajikan dengan cara sistematis, dapat menghemat waktu belajar bagi anak didik.
                  Juga, metode ceramah baik sekali digunakan dalam Pendidikan Agama, jika untuk tujuan-tujuan sebagai berikut:
a.   Membangkitkan motivasi (dorongan) belajar. Pada permulaan pelajaran dari suatu pokok atau unut baru, guru dapat menguraikan secara lisan tentang aspek-aspek penting yang akan diajarkan kepada murid. maka denga metode ceramah guru agama dapat menunjukkan atau mengingatkan bagian-bagian penting, sehingga menimbulkan keinginan pada murid untuk mengetahuinya.
b.   Menjelaskan suatu bagian bahan pelajaran yang dirasakan sulit bagi seluruh kelas. Ini berarti penghematan waktu, baik untuk guru maupun murid, juga berarti; bahwa seluruh kelas telah mendapat penjelasan yang sama.
c.   Mengupas sutu bahan pelajaran. Dengan metode ceramah guru agama dapat membimbing murid untuk mengumpulkan pokok-pokok yang penting dari sutu bab atau unut pelajaran.
d.   Memperluas isi pelajaran. Metode ceramah akan merupakan cara yang terbaik untuk memaparkan materi-materi tambahan yang tidak terdapat dalam buku pelajaran. Pengalaman-pengalaman dan pengetahuan guru, akan mrenarik minat murid. Sebab, pada umunya buku-buku pelajaran hanya memuat hal-hal yang pokok saja dari materi pelajaran yang harus diberikan. Mak penjelasan-penjelasanyang lebih terperinci hanya mungkin diisi dengan melalui penjelasan dari guru.   
                  Kita sadar bahwa tidak ada satu metode yang sempurna. Semua metode mengajar memiliki kebaikan dan kelemahan. Oleh sebab itu, jika guru akan mengunakan metode ceramah, maka hal-hal tersebut di bawah ini harus selalu diperhatikan:
a.   Bahan pelajaran harus disesuaikan dengan taraf perkembangan psikologis anak didik; baik yang berhubungan dengan lingkungan sosial maupun lingkungan kebudayaan.
b.   Hendaknya guru dapat menyesuaikan tingkat bahasa yang dipergunakan dengan taraf kecerdasan murid.
c.   Gaya bahasa supaya diperhatikan, baik berupa ucapan, tempo, melodi, ritme maupun dinamikanya.
d.   Guru agama sebagai penceramah, baik sikap dan cara berdirinya harus menimbulkan rasa simpatik.
e.   Menampakkan wajah yang berseri-seri serta mimik yang ramah dan menarik.
f.    Hendaknya guru agama dapat memberikan kesan pada murid, bahwa ia sendiri sangat berminatbpada bahan pelajaran yang sedang ia bicarakan.
g.   Guru agama dalam memberikan pelajaran, hendaknya diadakan variasi, misalnya: tanya jawab, audio visual aids, dan lain sebagainya.
       
2. Metode tanya jawab
                  Metode tanya jawab ialah: penyampeian pelajaran, dengan jalan guru bertanya, sedang murid-murid menjawab. Pada umumnya metode ini sebagai rangkaian tindak lanjut "Metode ceramah". Maka, dalam cara ini paling tidak ada dua tugas yakni:
a.   Memberikan kesempatan bertanya; yang mengandung latihan  kemauan/keberanian bertanya, dan
b.   Sebagai tolak ukur untuk mengetahui, sampai seberapa jauh pelajarn itu dipahami anak didik. Dengan begitu dibuka pintu jalur lintas dua arah, yaitu dari pengajar kepada anak didik dan sebaliknya.
       
                  Socrates seorang filosuf berkebangsaan Yunani menanamkan metode ini dengan  "metode bimbingan", karena dengan metode ini, anak didik dibimbing dengan melalui tanya jawab. ini pernah digunakan oleh Malaikat Jibril bersama Nabi Muhammad dalam pengajaran agama Islam kepada para sahabat. Jibril dengan menjelmakan dirinya sebagai seorang laki-laki, datang secara tiba-tiba dan bertanya kepada Nabi Muhammad; tentang arti Islam, Iman, Ihsan dan tentang kapan terjadinya hari kiamat, yang kemudian pertanyaan-pertanyan itu di jawab oleh Nabi. Begitu selesai tanya jawab dengan Nabi, Jibril segera pergi dan menghilang. Atas dasar peristiwa itu, Nabi menjalaskan kepada para sahabat: Laki-laki itu tadi, sesungguhnya Malaikat Jibril, datang"memberi pelajaran" kepada manusia tentang agama mereka".
                  Ini adalah contoh yang gemilang tentang penggunaan metode tanya jawab, di masa Nabi Muhammad saw. Masih hidup. Juga patut diketahui bahwa metode tanya jawab ini didukung oleh pendapat E.L. Thorndika, seorang ahli ilmu jiwa, dalam teorinya tentang proses belajar. Dikatakan, bahwa belajar adalah suatu usaha untuk memperkuat ikatan antara stimulus (rangsangan) dan respon (jawaban). Ikatan antara stimulus dengan respon akan menjadi kuat, jika terus menerus diulang dan dilatih. Maksudnya;  bahwa dalam praktek, seseorang akan mudah mereproduksi suatu jawaban, jika dilakukan ulangan yang teratur dari pertanyaan dengan jawabanya. Denagn kata lain, apabila kita menginginkan ikatan (asosiasi) yang kuat antara suatu pertanyaan dengan jawabannya, maka kita harus sering melatih dan mengulanginya.
                  Maka, metode tanya jawab, baki sekali diterapkan dalam Pendidikan Agama, apabila untuk tujuan-tujuan seperti:
a.  Terhadap pertanyaan yang menuntut jawaban yang reproduksi.
1)   Untuk mengetahui apakah pengetahuan siap yang harus  dimiliki .op murid sudah benar-benar tertanam dalam daya ingatannya.
2)   Untuk mengetahui apakah pelajaran yang telah diberikan kepada murid tersimpan dengan setia (tidak mengalami perubahan), tahan lama (dapat diingat untuk waktu yang lama), luas (dapat mengingat banyak masalah sekaligus) dan mengabdi (mudah untuk mereproduksikan lagi).
b.   Terhadap pertanyaan yang menuntut pemikiran atau logika.
1)   Untuk mengetahui apakah jalan berfikir murid sudah sistematis dan logis.
2)   Untuk mengetahua apakah jalan berfikir murid sudah menuju problema yang harus dipecahkan atau di rumuskan.
c.   Menekankan bagian-bagian yang dipandang penting kepada murid.
d.   Agar murid tidak merasa asing dengan jenis pertanyaan yang mungkin dijumpai dalam kelanjutan belajarnya. Jadi anak didik dibiasakan dengan pelbagai bentuk pertanyaan serta jawaban-jawabanya.
       
                  Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka pertanyaan yang baik memiliki ciri-ciri seperti di bawah ini:
a.   Pertanyaan hendaknya  bersifat mengajak atau merangsang anak didik untuk berfikir.
b.   Kata-kata yang dipergunakan untuk menyusun pertanyaan harus jelas. Jadi tidak ada istilah-istilah yang tidak dipahami murid.
c.   Pertanyaan hanya memungkinkan satu tafsiran.
d.   Masing-masing pertanyaan hanya berisi satu problema.
e.   Pertanyan harus memiliki tujuan tertentu, yakni; apakah mengharapkan suatu reproduksi dari pengetahuan siap yang telah dimiliki atau ingin menguji kemampuan berfikir murid.
f.    Pertanyaan sesuai dengan taraf kecerdasan serta pengalaman murid.
       
                  Jelasnya, bahwa Metode tanya jawab tepat digunakan untuk Pendidikan Agama. Oleh karena memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
a.   Pertanyaan membangkitkan minat. Dan ini amat penting sebagai motivasi belajar.
b.   Pertanyaan ingatan yang meminta jawaban yang bersifat reproduktif dapat memperkuat ikatan (asosiasi) antara pertanyaan dan jawaban.
c.   Pertanyaan pikiran yang meminta jawaban yang harus dipikirkan, ditafsirkan, menganalisis dan menarik kesimpulan, dapat mengembangkan cara-cara berpikir logis dan sistematis.
d.   Pertanyaan dapat mengurangi proses lupa, karena jawaban yang dikemukakan itu telah diolah dalam suasana yang serius. Seluruh pikiran di pusatkan pada pertanyaan. Juga seluruh situasi membantu mmemperkuat dicamkanya jawaban. Maka, jika jawaban dan tersimpan dalam daya ingatan.
e.   Jawaban yang salah, segera dapat dikoreksi.
f.    Pertanyaan dapat membangkitkan hasrat untuk melakuakn penyelidikan. Ini penting dalam membimbing anak didik kearah berfikir secara kritis dan ilmiah.
g.   Dengan metode ini, anak didik diajak untuk berani dan belajar bertanya. Hal itu sangat diperlukan untuk keperluan hidup sehari-hari di masyarakat.
h.   Dengan metode ini pula, guru dapat mengetahui murud-murid, mana yang cerdas, kurang cerdas, bodoh, rajin, malas dan acuh tak acuh.
                  Metode tanya jawab merupakan metode mengajar yang bisa dipergunakan guru di kelas maupun diluar kelas. Maka, jika guru akan menggunakan metode ini, hal-hal di bawah ini harus selalu diperhatikan :
a.   Guru harus benar-benar menguasai bahan pelajaran, termasuk semua jawaban yang mungkin akan didengarnya dari murid atas suatu pertanyaan yang diajukan olehnya.
b.   Guru harus sudah mempersiapkan semua pertanyaan yang akan diajukan dengan cermat.
c.   Pertanyaan-pertanyaan harus jelas dan singkat. Ini harus diperhatikan, sebab pertanyaan-pertanyaan akan diajukan secara lisan.
d.   Susunlah pertanyaan dalam bahasa yang mudah dipahami murid.
e.   Guru harus mengarahkan pertanyaan kepada seluruh kelas.
f.    Berikan waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban pertanyaan, sehingga murid dapat merumuskannya dengan sistematis.
g.   Tanya jawab harus dilaksanakan dalam suasana yang tenang dan bukan dalam suasana tegang yang penuh dengan persaingan yang tidak sehat diantara anak didik.
h.   Agar sebanyak-banyaknya murid memperoleh giliran menjawab pertanyaan, dan jika seseorang tidak dapat menjawab segera giliran diberikan kepada murid yang lain.
i.    Usahakan selalu agar setiap pertanyaan hanya berisi satu problema saja.
j.    Perrtanyaan harus dibedakan dalam golongan pertanyaan pikiran dan pertanyaan reproduksi atau pertanyaan yang meminta pendapat dan yang hanya fakta-fakta saja.
                  Hal-hal tersebut diatas perlu sekali diperhatikan, agar metode tanya jawab yang digunakan dapat mencapai tujuannya secara optimal.
       
3. Metode Diskusi atau Musyawarah atau Sarasehan
                  Metode diskusi atau musyawarah adalah sutau kegiatan kelompok dalam memecahkan masalah untuk mengambil kesimpulan. Dalam metode ini menampilkan kegiatan menanyakan, memberi komentar, saran serta jawaban dalam kelompok/kelas. Dalam kehidupan siswa atau masyarakat, sangat layak jika kepadanya dibubuhkan pengertian dan pelaksanaan berdiskusi/musyawarah/ sarasehan dan dikenalkan perbuatan menenggang pengertian, sopan santun berbicara, belajar mende-ngarkan  dan lain sebagainya. Aspek penghayatan dikenal melalui cara demikian.
                  Menurut Ibnu Khaldun, bahwa jalan yang termuadh dikerjakan ialah menggunakan lidah untuk berdiskusi dan berdebat dalam masalah-masalah ilmiah. Inilah jalan untuk mendekatkan kepada apa yang dikehendaki dan mencapai apa yang dituju. Kita perhatikan para pelajar setelah umur mereka habis di bangku pelajaran, diam tidak berkutik dan tidak mengadakan perundingan-perundingan. Perhatian mereka kepada mengahafal ilmu melebihi dari kebutuhan, maka mereka tidak berhasil memanfaatkan daya kemampuan dalam  ilmu dan dibidang pendidikan.
                  Sebagai metode mengajar yang bersifat sangat mendekati cara-cara kegiatan hidup sehari-hari; metode diskusi baik sekali untuk diterapkan dalam pendidikan agama, oleh karena memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut :
a.   Mendidik murid-murid untuk belajar bertukar pikiran atau pendapat. Pengalaman semacam ini harus dipupuk dan dikembangkan oleh karena dalam kehidupan bermasyarakat cara-cara seperti itu selalu dilakukan.
b.   Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menghayati pembaruan sutau poblema bersama-sama. Hal sedemikian dapat memperkuat rasa kekeluargaan, dan saling mengenal lebih baik antara sesama anak didik.
c. Memberikan kesempatan kepada anak-didik untuk dapat memperoleh penjelasan-penjelasan dari plbagai sudut pandang atau dari pelbagai sumber data. Dengan demikian memungkinkan anak didik untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan mendalam.
d.   Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk berlatih berdiskusi di bawah asuhan guru. dengan demikian tidak akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan.
e.   Mengembangkan dan membina rasa solidaritas dan toleransi terhadap pendapat-pendapat teman yang bervariasi. Dengan demikian dapat dikembangkan suatu sikap untuk menghargai pendapat orang lkain walaupun sebenarnya ia sendiri tidak sependapat dengan pendapat itu.
f.    Membina anak didik untuk berfikir matang-matang sebelum berbicara. Hal ini dapat membina suatu sikap hati-hati dalam mengemukakan pendapat sendiri atau ketika hendak menolak pendapat orang lain. Anak didik akan didorong untuk belajar mengemukakan pendapat atas dasar suatu prinsip yang benar, yang merupakan landasan dari semua pendapat yang sedang dikemukakan.
g.   Dengan metode diskusi anak didik dapat dibina untuk menyatakan pendapatnya secara sistematis dan logis.
       
4. Metode Tugas
                  Metode tugas adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh adanya kegiatan perencanaan antara murid dengan guru mengenai sutau persoalan atau problema yang harus diselesaikan dan dikuasai oleh murid dalam jangka waktu tertentu yang disepakati bersama antara murid dan guru.
                  Pengertian metode tugas pada masa  dahulu (di sekolah tradisional), berbeda dengan Metode Tugas pada masa sekarang (dalam pengertian modern).
                  Di sekolah tradisional, Metode Tugas berarti, pemberian suatu tugas atau pekerjaan kepada seseorang, oleh guru kepada murid tanpa disertai penjelasan lainnya. Dalam istilah yang sangat populer lebih dikenal dengan sebutan "Pekerjaan Rumah" (PR). Jelasnya, tugas diberikan dan dalam jangka waktu yang ditetapkan, murid harus sudah dapat menguasai tugas tersebut. Apakah murid-murid mengerti apa yang telah dikerjakannya atau hanya verbalisme belaka, tidak menjadi soal bagi guru.
                  Tetapi, Metode Tugas dalam pengertian modern, yakni di sekolah-sekolah yang guru-gurunya telah mengetahui dan memahami apa arti metode tugas itu, maka pengertian Metode Tugas dalam pengertian baru (modern) adalah merupakan suatu perencananan atau suatu pengorganisasian bersama antara murid dan guru mengenai sesuatu dari pada hanya semata-mata berupa perintah dari guru kepada murid.
                  Jadi, dalam pemberian tugas, guru selalu memberikan saran-saran, pengarahan-pengarahan serta mengadakan checking, apakah murid-murid benar-benar telah memehami apa yang herus dilakukan dan hasil apa yang hendak dicapai. dengan demikian guru harus mengikuti dengan cermat semua tugas yang sedang dikerjakan murid-muridnya. sebab kegagalan murid dalam melaksanakan tugasnya juga menjadi tangung jawab guru. Faktor-faktor semacam  itu harus selalu diperhatiakan dalam pengertian Metode Tugas yang modern. Juga, guru sebagai manusia sumber; sebagai tempat murid bertanya, hendaknya selalu siap untuk melayani keperluan murid. Maka, dengan cara sedemikian murid-murid terdorong untuk menguasai bahan pelajaran atau tugas yang wajib dipelajarinya dengan jalan membuat ikhtisar, kritik/komentar atau pengamatan lapangan. Juga, dengan metode Tugas anak dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya di rumah, melainkan juga diperpustakaan, di laboratorium, di kebun-kebn, dan lain sebagainya,yang selanjutnya untuk dipertanggung jawabkan kepada guru.
                  Metode tugas, tepat digunakan dalam Pendidikan Agama, oleh kerena memilih keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
a. Murid-murid berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.
b.   Baik sekali untuk mengisi waktu terluang dengan masalahmasalah yang konstruktif.
c.   Membiasakan anak untuk giat belajar.
d.   Murid-murid dapat belajar dan bekerja dalam suasana yang merdeka dan demokratis.
                  Di samping langkah-langkah sebagaimana tertera di atas, guru harus inggat bahwa murid-murid menghadapi pelbagai tugas, dan belum berpengalaman dalam cara membagi-bagi waktu. Maka,nilai pendidikan dari metode tugas itu bukan terletak pada hasil tugas atau prestasi kerja,melainkan pada proses atau pengalaman kerja yang dihayati murid ketika mengerjakan tugas tersebut. Kekayaan pengalaman inilah yang diperlukan murid untuk persiapan hidupnya kelak dimasyarakat adalh hidup dalam tugas, yang pada hakekatnya memikul suatu pertanggungan jawab. Jdi, dengan metode tugas anak didik belajar hidup bertanggung jawab di bawah bimbingan guru.

5. Metode permainan dan simulasi (Game and simulation)
                  Adalah suatu pengajaran; dalam mana situasi yang sesungguhnya dan bagian-bagian penting diduplikasikan dalam bentuk permainan. Maka, jika mungkin anak didik bertindak dalam suatu peranan. Tujuanya adalah untuk menumbuhkan kesadaran diri, rasa simpati, perubahan sikap dan kepekaan. Misalnya; dalam bentuk drama, permainan peranan, komidi dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa permainan simulasi adalah bentuk mainan yang diatur sedemikian rupa, sehingga terjadi proses belajar mengajar, dengan nama anak didik terlibat aktif di dalamnya.
                  Sebagai metode pengajaran yang bersifat sangat mendekati dengan pola kehidupan sosial dalam masyarakat, permainan simulasi tepat digunakan jika untuk tujuan-tujuan seperti:
a.   Menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang memecahkan suatu masalah.
b.   Melukiskan bagaimana seharusnya seseorang bertindak atau bertingkah laku dalam suatu situasi sosial tertentu.
                  Sedang untuk penerapanya dalam metode mengajar agama, metode ini juga tepat digunakan, oleh karena memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
a.   Anak didik belajar untuk memecahkan suatu problema sosial menurut pendapatnya sendiri.
b.   Memperkaya anak didik dalam pelbagai pengalaman situasi sosial yang bersifat problematis.
c.   Memperkaya pengetahuan dan pengalaman semua murid mengenai cara menghadapi dan memecahkan suatu problema sosial yang diperoleh dari hasil-hasil diskusi.
d.   Murid-murid yang memainkan peranan belajar berbahasa dengan baik, menyatakan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang diucapkan dengan lafal yang tepat, ucapan yang jelas, sehingga memupuk kebiasaan untuk dapat mengutarakan pendapat dengan jelas dan dimenegrti orang lain, sesuai dengan tuntutan situasi sosial pada saat itu.
e.   Menanamkan dan memupuk keberanian untuk tampil di depan umum atau orang banyak tanpa kehilangan keseimbangan pribadi. Jadi, tidak gentar, gemetar, malu tanpa alasan, tak berdaya menghadapi problema sosial atau putus asa. Dengan kata lain, tidak dihinggapi rasa harga diri rendah dan timbul kepercayaan  pada kekuatan diri sendiri.
f.    Memungkinkan anak didik untuk mendapat pengetahuan yang mantap dan mengesankan.
g.   Dapat menumbuhkan gairah dan aktivitas belajar.
 h. Sebagai suatu variasi dalam penggunaan pelbagai metode mengajar, oleh karena dapat merupakan suatu hiburan bagi murid-murid dan menikmati suatu permainan.
\
6. Metode Latihan Siap
                  Metode latihan siap sebagai salah satu metode interaksi edukatif dalam pendidikan dan pengajaran dilaksanakan dengan jalan melatih anak-anak (murid) terhadap bahan-bahan pelajaran yang diberikan. Penggunaannya biasanya pada bahan-bahan pelajaran yang bersifat motoris dan ketrampilan. Dengan melakukan latihan berkali-kali, terus-menerus secara tertib dan teratur, pengetahuan dan pemahaman dapat diperoleh dan disempurnakan oleh murid.
                  Metode ini berasal dari metode pengajaran Herbart, yakni metode asosiasi dan ulangan tanggapan yang dimaksudkan untuk memperkuat tanggapan pelajaran pada murid-murid. Pelaksanannya lebih banyak bersifat mekanis, sehingga menimbulkan verbalisme pengetahuan murid, kebiasaan menghafal secara mekanis, tanpa pengertian dan pemahaman.
                  Dalam pendidikan agama, metode ini sering dipergunakan untuk melatih ulang peljaran Al-Qur'an dan praktek ibadah. Menurut riwayat, setiap bulan ramadlan, Nabi Muhammad saw. mengadakan latihan ulang terhadap wahyu-wahyu yang telah diterimanya.
                  Metode ini wajar dan tepat digunakan dalam hal :
a.   Apabila pelajaran dimaksudkan untuk melatih ulang pelajaran yang sudah diberikan dan atau yang sedang berlangsung.
b.   Apabila pelajaran dimaksudkan untuk melatih ketrampilan murid dalam mengerjakan sesuatu dan melatih murid berfikir cepat.
c.   Apabila dimaksudkan untuk memperkuat daya tanggapan murid terhadap bahan pelajaran.
           Beberapa kelebihan metode latihan siap antara lain :
a. Sesuai dengan tujuannya, para murid akan memperoleh dan memiliki pengetahuan siap.
b.   Dalam waktu yang relatif singkat, murid dengan cepat dapat memperoleh penguasaan dan ketrampilan yang diharapkan.
c.   Menanamkan pada murid terhadap kebiasaan belajar secara rutin dan disiplin.
       
7. Metode Demonstrasi dan Eksperimen
                  Demonstrasi dan Eksperimen merupakan metode interaksi edukatif yang sangat efektif dalam membantu murid untuk mengetahui proses pelaksanaan sesuatu, apa unsur yang terkandung didalamnya, dan cara yang paling tepat dan sesuai, melalui pengamatan induktif. Atau dengan pengertian lain yang lebih sederhana adalah sutau metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain yang senagaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan pada seluruh kelas tentang suatu proses atau suatu kaifiyah melakukan sesuatu. Misalnya proses cara mengambil wudlu, proses cara mengerjakan shalat janazah, proses cara melaksanakan thowaf haji atau umrah, mengadakan eksperimen mengenai debu atau tanah yang dapat dipergunakan untuk tayamum, dan sebagainya.
                  Dalam pendidikan agama tidak semua masalah atau materi agama dapat didemonstrasikan dan diadakan eksperimen, misalnya masalah aqidah, keimanan kepada Allah, Malaikat, Surga dan Neraka, adanya siksa kubur, dan lain-lain dan sejenis tentunya tidak mungkin untuk menggunakan metode demontrasi dan eksperimen. sebagai metode interaksi edukatif, metode ini banyak digunakan dalam ibadah dan akhlaq. 
                  Metode demontrasi dan eksperimen ada dalam batas kewajaran penggunaanya dalam hal:
a.   Apabila proses belajar mengajar dimaksutkan untuk memberikan ketrampilan tertentu.
b.   Untuk mempermudah berbagai jenis penjelasan karena penggunaan bahasa lisan dalam metode ini lebih terbatas.
c.   Untuk menghindari proses belajar mengajar yang bersifat verbalistik.
d.   Untuk membantu murid untuk memahami dengan jelas jalannya suatu proses dengan penuh perhatian, sebab lebih menarik.
                  Dari kewajaran penggunaannya terlihat beberapa kelebihan metode demonstrasi dan eksperimen yaitu:
a.   Murid dapat menghayati dengan sepenuh hatinya mengenai pelajaran yang diberikan.
b.   Memberi pengalaman praktis yang dapat membentuk perasaan dan minat serta kemauan murid.
c.   Perhatian murid lebih terpusat pada apa yang didemotrasikan dan kepada hal-hal yang diselenggarakan percobaan-percobaan (eksperimen).
d.   Melalui metode ini sekaligus masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pikiran murid langsung dapat terjawab.
e.   Dibanding dengan metode lainya, metode demonstrasi dan eksperimen mampu mengurangi kesalahan dalam mengambil kesimpulan dan penger-tian, karena murid mengamati langsung terhadap suatu proses.
                  Sebagai metode instraksi edukatif, metode ini perlu dipadukan dengan metode-metode lainya, terutama untuk menghindari dan memeperkecil kelemahan-kelemahanya, karena:
a.   Dalam pelaksanaanya, biasanya memerlukan waktu yang relatif banyak atau panjang.
b.   Apabila tidak ditunjang dengan peralatan dan perlengkapan yang memedai atau tidak sesuai dengan kebutuhan, maka metode ini kurang efektif.
c.   Metode ini sulit dilaksanakan apabila anak belum matang untuk mengadakan percobaan atau eksperimen.
d.   Banyak hal-hal yang tidak dapat didemonstrasikan dan dicobakan dalam kelas, demikian halnya dengan pendidikan agama.
       
                  Untuk itu saran-saran perlu diperhatikan dalam rangka penggunaan metode interaksi ini antara lain:
a.   Hendaknya dilakukan atau diterapkan dalam hal-hal yang bersifat praktis dan urgen dalam kehidupan murid di masyrakat.
b.   Hendaknya diarahkan agar murid-murid dapat memperoleh pengertian dan pemahaman yang lebih jelas, pembentukan sikap serta kecakapan praktis.
c.   Hendaknya diusahakan agar semua murid dapat mengikuti semua kegiatan dengan jelas, dengan pengaturan ruang dan tempat duduk murid.
d.   Mengawali penerapan metode ini hendaknay diberikan pengertian sejelas-jelasnya terlebih dulu mengenai landasan teori dari apa hal-hal yang akan didemonstrasikan maupun dicobakan (eksperimen).
           
8. Metode karyawisata
Melalui karyawisata sebagai metode interaksi edukatf, murid dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan tujuan untuk belajar. Dengan demikian ada keterikatan oleh tujuan dan tugas belajar. Dalam perjalanan karyawisata ada hal-hal tertentu yang telah diprogramkan dalam proses belajar mengajar untuk dipelajari murid, di samping banyak hal-hal yang bersifat edukatif. Misalnya pengenalan dan penanaman dan keimanan terhadap kekuasaan Allah dalam penciptaan alam semesta.
Kewajaran pengunaan metode interaksi ini adalah:
a.   Apabila proses belajar mengajar dimaksudkan untuk memberi pengertian yang lebih jelas kepada murid dengan alat peraga langsung atau mengamati langsung gejala-gejala alam.
b.   Apabila akan membangkitkan penghargaan dan cinta terhadap lingkungan serta menghargai ciptaan Allah.
c.   Apabial proses belajar mengajar dimaksudkan untuk mendorong murid untuk mengenal masalah lingkungan dengan baik.
                  Beberapa kelebihan metode ini adalah:
a.   Memberikan kepuasan terhadap keinginan murid dengan banyak .op
      melihat kenyataan, disamping keindahan alam sekitar diluar kelas atau sekolah.
b.   Murid akan bersifat terbuka, obyektif, luas wawasannya sebagai hasil pengetahuan luar yang diperolehnya yang akan mempertinggi prestasi kepribadiannya.
c.   Murid dapat memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman melalui karyawisata, sedangkan guru mendapat kesempatan menjelaskan segala sesuatu kepada murid.
       
                  Kelemahan karyawisata sebagai metode interaksi nampak :
a.   Apabila obyek karyawisata tidak sesuai untuk mencapai tujuan.
b.   Memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga kurang efesien bila dilihat dari segi waktu yang digunakan.
c.   Beaya penyelenggaraan karyawisata merupakan beban tambahan bagi murid, sehingga sangat memberatkan bagi murid-murid yang orang tuanya kurang mampu. Dengan demikian, disamping kurang efesien dari segi waktu juga kurang efesien dari segi dana, beaya dan tenaga yang dipakai.
                  Berkaitan dengan kelemahan-kelemahan karyawisata sebagai metode interaksi, maka dalam penggunaanya seyogyanya memperhatika saran-saran tersebut:
a.   Hendaknya tujuan proses belajar mengajar dirumuskan sejelas mungkin, sehingga kelihatan wajar tidaknya metode ini di pergunakan.
b.   Hendaknya diadakn orientasi pendahuluan lebih dulu mengenai obyek atau daerah yang akan ditinjau (dalam karyawisata) dengan memperhatikan hal-hal yang sekiranya akan menghambat pelaksanaan atau kemungkinan kesulitankesulitan yang akan ditemui dalam karyawisata.
c.   Seyogyanya guru menjelaskan terlebih dahulu tujuan karyawisata dan mempersiapkan permasahan-permasalahan yang harus dipecahkan oleh murid melalui karyawisata.
                  Dalam pendidikan agama, karyawisata dapat membantu pemahaman murid secara langsung mengenai kebesaran dan kekuasaan Allah, yang dengan modal ini diharapkan keimanan murid lebih kuat dan mendalam. Dengan demikian masalah-masalah aqidah atau ketauhidan dapat menggunakan pendekatan ini (karyawisata) sebagai penunjang metode lainya.
       
9. Metode kerja kelompok
                  Metode kerja kelompok dalam proses belajar mengajar adalah kelompok kerja dari kumpulan beberapa individu yang bersifat paedagogis yang didalamnya terdapat adanya hubungan timbal balik (kerja sama) antara individu serta saling percaya mempercayai.
                  Dengan pengertian lain, apabila guru dalam menghadapi murid-murid dikelas merasa perlu membagi mereka dalam beberapa kelompok untuk memecahkan suatu masalah atau untuk mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan secara bersama-sama, maka cara mengajar yang demikian itu dinamakan metode kerja kelompok.
                  Sebagai metode interaksi edukatif, kerja kelompok dapat diterapkan untuk berbagai macam bahan atau materi pelajarn dan untuk mencapai berbagai macam tujuan proses belajar mengajar. Termasuk dalam pendidikan agama. Di dalam mengelompokkan murid ada beberapa dasar pertimbangan, antara lain:
a.   Pengelompokan atas dasar perbedaan individu murid dalam kemampuan belajar. Hal ini diterapkan dalam keadaan murid-murid yang sangat heterogin ditinjau dari aspek kecakapan atau kemampuan.
b.   Pengelompokan atas dasar perbedaan individual murid dalam minat belajar. Hal ini dimaksudkan untuk lebih banyak memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan minat masing-masing.
c.   Pengelompokan atas dasar sarana dan fasilitas pendidikan yang tersedia. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan terbatasnya sarana dan fasilitas yang tersedia, yang tidak sebanding dengan jumlah murid atau peserta didik.Sehingga murid-murid dibagi kelompok-kelompok menurut sarana dan fasilitas pendidikan yang tersedia.
d.   Pengelompokan atas dasar peningkatan pertisipasi. Cara mengajar semacam ini dimaksudkan untuk merangsang setiap murid untuk ikut serta secara aktif dalam memecahkan masalah secara penuh dengan hubungan kelompok secara gotong royong.
e.   Pengelompokan atas dasar pembagian pekerjaan dan tugas. Pembagian tugas atau pekerjaan berdasarkan pada banyaknya masalah-masalah yang perlu dipecahkan dalam waktu yang sama, sehingga diperlukan kelompok-kelompok  yang masing-masing ditugasi untuk menyelesaikan permasalahan tertentu, dan masing-masing bertanggung jawab terhadap penyelesaiakn tugas tersebut.
                  Dilihat dari segi waktu dan cara pembentukan kelompok maka metode interaksi ini dibedakan menjadi:
a.   Kerja kelompok jangka Pendek (buzz session)
              Kelompok ini dapat dilaksanakan dalam kelas dengan waktu yang relatif singkat, misalnya, 20 menit, dimaksudkan untuk menanamkan rasa saling membantu dan kerjasama dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan. Di samping menanamkan pentingnya musyawarah dalam kehidupan bermasyrakat.
b.   Kerja Kelompok Jangka Menengah
              Kelompok ini dibentuk karena kepentingan penyelesaian unit-unit pelajaran yang dikerjakan secara bersama-sama dalam beberapa hari. Tiap-tiap kelompok mendapat tugas yang berbeda, tetapi saling terkait dengan tugas kelompok yang lain. Dalam hal ini diharapkan masing-masing anggota kelompok harus terlibat aktif dalam penyelesaian tugas kelompok.
c.   Kerja kelompok Jangka Panjang
              Kelompok jenis ketiga ini sering disebut juga kelompok studi. Suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok ini berakhir apabila telah berlangsung kenaikan kelas atau seusai penyelesaian suatu jenjang program studi. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan dari kelompok-kelompok jangka panjang ini antara lain:
-     Mendorong terciptanya saling kompetisi dalam meningkatkan prestasi kelompok;
-     Mendorong untuk bekerja sama secara rutin, terus menerus dalam menyelesaiakn pelajarn-pelajarn yang sulit;
-     Menanamkan sikap solidaritas antar teman dalam bekerja kelompok;
-     Dapat saling membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi kelompok;
-     Membantu memudahkan pelaksanaan tugas guru dan pimpinan sekolah.
                  Dari uraian tersebut, terlihat beberapa kelebihan dari metode kerja kelompok dalam belajar mengajar, yaitu:
a.   Dari aspek paedagogis, kegiatan kerja kelompok murid-murid akan meningkatkan kualitas kepribadian, meliputi: kerjasama, toleransi, kritis, disiplin dan lain sebagainya.
b.   Dari aspek psikologis akan timbul persaingan, kompetisi yang sehat dan positif, karena anak akan lebih giat melaksanakan tugas dalam kelompok masing-masing.
c.   Dasar aspek didaktik, murid-murid yang pandai dalam kelompoknya dapat membantu teman-temannya yang kurang pandai, teritama dalamm rangka memenangkan kompetisi antar kelompok.
       
                  Ada beberapa kelemahan kerja kelompok sebagai metode interaksi, karena:
a.   Metode ini memerlukan persiapan-persiapan yang lebih rumit ketimbang metode-metode yang lain, sehingga memerlukan dedikasi yang lebih tinggi dari pihak guru.
b.   Apabila terjadi persaingan yang negatif, hasil pekerjaan dan tugas akan lebih buruk.
c.   Bagi murid yang malas, memperoleh kesempatan untuk tetap pasif dalam kelompok itu dan kemungkinan besar akan mempengaruhi anggauta lainnya, sehingga usaha kelompok kerja itu akan gagal.
           Oleh karena itu, disarankan:
a.   Hendaknya diusahakan jumlah anggota masing-masing kelompok tidak terlalu besar, cukup empat sampai enam orang murid saja, sehingga diharapkan kesemuanya terlibat aktif.
b.   Pembentukan kelompok kerja hendaknya dibentuk secara demokratis dengan mempertimbangkan minat dan kemampuan murid, sehingga menambah gairah murid untuk bekerja sama denga teman-teman yang telah dipilihnay.
c.   Hendaknya diperhatikan keseimbangan dan pemerataan anggauta kelompok murid yang pandai dan yang kurang pandai, dan juga perimbangan anggauta pria dan wanita, selama hal itu memungkinkan. Sebagaimana penegasan terdahulu, bahwa kerja kelompok sebagai metode interaksi dapat dipergunakan mengajar atau menyampaikan bahan pelajaran dan untuk mencapai berbagai macam tujuan. Termasuk di dalamnya pendidikan agama. Misalnya dalam masalah pembagian dan pengumpulan zakat, memecahkan persoalan pembagian harta waris dan lain sebagainya.
       
10. Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan
                  Metode sosiodrama adalah metode mengajar dengan mendemontrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial sedangkan bermain peranan menekankan kenyataan di mana para murid diikut sertakan dalam memainkan peranan di dalam mendemontrasikan masalah-masalah sosial. Sedangkan kebaikaNnya dari metode ini antara lain:
1.   Melatih murid untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian untuk menjadi peran.
2.   Metode ini akan menarik perhatian murid, sehingga kelas suasananya menjadi hidup.
3.   Murid-murid dapat menghayati suatu peristiwa, sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatanya sendiri.
4.   Anak dilatih dapat menyusun buah pikiran dengan teratur dan sistematis.
                  Namun metode ini memiliki kelemahan antara lain:
a.   Metode ini memakan waktu cukup banyak.
b.   Memerlukan persiapan yang teliti dan matang.
c.   Kadang-kadang murid tidak mau mendramatisasikan sesuatu adegan karena malu dan takut.
d.   Kita tidak dapat mengambil kesimpulan apa-apa, apabila pelaksanaan    dramatisasi itu gagal.
       
                  Kaitannya dengan pelaksanaan mengajar maka metode ini tepat digunakan; Metode sosiodrama atau bermain peranan digunakan untuk menerangkan suatu peristiwa yang di dalam menyangkut orang banyak dan erdasar pertimbangan yang didaktis lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dihayati oleh murid. Metode ini sangat baik untuk melatih murid-murid agar mereka mampu menyelesaiakn masalah-masalah yang bersifat sosial psikologis. Serta untuk melatih murid agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
                                
11. Metode Sistem Regu (Team Teaching)
Metode Sistem beregu (team teaching) ialah metode mengajar di mana dua orang guru (atau lebih) bekerja sama mengajar sekelompok murid. Metode ini banyak dipergunakan di Perguruan Tinggi.
Metode ini memiliki kelebihan antara lain :
a.   Pemahaman dan penguasaan bahan murid akan lebih luas dan mendalam, karena masing-masing guru memberikan tinjauannya yang sesuai dengan keahliannya.
b.   Proses pengajaran berjalan lebih lancar sebab masing-masing pengajar merasa terikat dan selalu berusaha menjaga nama baik teamnya/regunya.
       
                  Sedangkan kelemahan-kelemahan yang dimiliki metode ini antara lain:
a.   Sebelum tiba giliran mengajar, kadang-kadang guru-guru tersebut tidak memanfaatkannya untuk membuat persiapan/rencana pelajaran yang lebih baik.
b.   Apabila pengajar tidak dapat berintegrasi menjadi satu regu yang kompak, tidak mengenal tanggung jawab kelompok, tidak mempunyai partisispasi kelompok dan pimpinan regu tidak mengkoordinasi usaha setiap anggota regu, maka tujuan pengajaran tidak akan tercapai.
c.   Kemungkikan timbul penilaian negatif para murid terhadap seorang guru dengan membandingkannya dengan guru yang laian, sehingga minat dan perhatian murid menjadi berkurang.
       
                  Metode sistem regu ini dipergunakan apabila jumlah murid terlalu besar, sehingga penjelasan maupun tugas-tugas belajar kepada para murid kurang merata di samping penangkapan murid sendiri kurang sempurna. Serta untuk memberikan penjelasan lebih mendalam tentang suatu bahan pelajaran yang telah diterima. Metode ini harus didukung oleh fasilitas dan alat yang cukup memadai yang memungkinkan pengelompokkan murid dalam beberapa kelompok.
    
12. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mengajak dan memotivasi murid untuk memcahkan masalah dalam kaitannya dengan kegiatan proses belajar mengajar. Metode ini memiliki kelebihan atau kebaikan diantaranya :
a.   Melatih murid untuk menghadapi problema-problema atau stusi yang timbul secara spontan.
b.   Murid-murid menjadi aktif dan berinisiatif sendiri serta bertanggung jawab.
c.   Pendidikan di sekolah relevan dengan kehidupan di masyarakat.
       
                  Sedangkan kelemahan  metode ini diantaranya :
a.   Memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga kurang efektif dan efisisen.
b.   Murid yang pasif dan malas akan kelihatan tertinggal dari teman-temannya.
c.   Sukar sekali mengordinasikan bahan pelajaran dengan baik.
       
                  Metode pemecahan masalah ini sangat baik untuk digunakan melatih murid-murid berfikir kritis dan dinamis terhadap suatu masalah tertentu. Serta melatih keberanian dan rasa tanggung jawab murid dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan yang ada di masyarakat.
       
13. Metode Proyek/Unit
Metode proyek/Unit adalah suatu metode mengajar dimana bahan pelajaran diorganisir sedemikian rupa, sehingga merupakan suatu keseluruhan/kesatuan bulat yang bermakna dan mengandung suatu pokok masalah.
Diantara kelebihan dan kebaikan metode proyek ini adalah :
a.   Murid memperoleh pengetahuan yang bulat.
b.   Murid akan berpandangan luas, melihat hubungan antara bahan /mata pelajaran satu dengan yang lain.
c.   Murid dan guru sama-sama aktif.
d.   Murid dibiasakan bekerja secara ilmiah.
e.   Pengetahuan murid menjadi praktis.
f.    Hubungan antara sekolah dan masyarakat terbina baik.
       
                  Namun metode proyek ini juga memiliki kelemahannya :
a.   Memakan waktu yang cukup lama.
b.   Ada kalanya sukar mendapatkan sumber-sumber yang tepat.
c.   Pengetahuan dan kecakapan guru harus cukup dan memadai baik tentang bahan maupun metode ini.
       
                  Metode proyek ini tepat dipergunakan untuk memberikan pengertian kepada murid tentang perlunya menjalin kerjsama antara sekolah dengan masyarakat. serta untuk melatih murid bersikap kritis, dinamis dan demokratis dalam menghadapi problema-problema yang tumbuh di masyarakat sekaligus mampu memecahkannya.

14. Metode Uswatun Hasanah
        Metode ini termasuk metode yang tertua dan tergolong paling sulit dan mahal. dengan metode ini, pendidikan agama disampaikan melalui contoh teladan yang baik dari pendidiknya, sebagaimana telah dilakukan oleh para Nabi terdahulu.
                  Metode Uswatun Hasanah besar pengaruhnya dalam misi Pendidikan Agama Islam. bahkan menjadi faktor penentu. Apa yang dilihat dan didengar orang dari tingkah laku guru agama, bisa menambah kekuatan daya didiknya, tetapi sebaliknya bisa pula melumpuhkan daya didiknya, apabila ternyata yang tampak itu bertentangan dengan yang didengarnya. Dalam hubungan dengan masalah ini, Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa perbandingan antara guru dengan murid, adalah ibarat tongkat dengan bayangannya. Kapankah bayangan tersebut akan lurus kalau tongkatnya sendiri bengkok.
                  Dalam dunia pendidikan modern, istilah metode uswatun hasanah sering disebut dengan metode imitasi atau tiruan. Dilihat dari segi bentuknya maka metode ini merupakan bentuk non verbal dari metode pendidikan Agama Islam.
       
15. Metode Anugerah
Manusia mempunyai cita-cita, harapan dan keinginan. inilah yang dimanfaatkan oleh metode anugerah. Maka dengan metode ini, seseorang yang mengerjakan sesuatu perbuatan yang baik atau mencapai suatu prestasi tertentu, diberikan suatu anugerah yang menarik sebagai imbalannya. Dengan demikian orang dirangsang  untuk mengejar anugerah yang diinginkan, dengan melakukan sesuatu perbuatan atau mencapai suatu prestasi.
                  Anugerah yang bersifat paedagogis dan dapat diberikan kepada anak didik bisa bermacam-macam. Pada garis besarnya ganjaran itu bisa dibedakan ke dalam 4 (empat) macam, yaitu : (1) Pujian; (2) Penghormatan; (3) Hadiah; dan (4) Tanda Penghargaan.
                  Metode anugerah ini, dalam agama Islam, terbukti dengan adanya "pahala" yang mengakibatkan kepada diperolehnya kenikmatan abadi di Surga, yang disediakan kepada siapapun yang beriman dan mengerjakan amal-amal  sholeh.
                  Atas dasar keterangan diatas jelas bahwa dalam Pendidikan Agama Islam dikenal adanya metode anugerah. Dalam hal mana bahwa dengan metode anugerah ini agama Islam mendidik manusia berbudi luhur dan mencapai prestasi iman dan takwa yang sempurna.
       
                  Demikianlah  beberapa alternatif pendekatan atau metode interaksi edukatif yang dapat dipergunakan dalam proses belajar-mengajar, dengan tidak menutup kemungkinan dipergunakannya pendekatan-pendekatan atau metode-metode lain dalam upaya efektifitas pencapaian tujuan dan hasil proses belajar mengajaryang baik, khususnya bidang studi pendidikan agama. (Lebih luas periksa, Zuhairini dkk., 1993 : 72  - 93 dan Shalahudin dkk., 1987 : 39 - 104).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar