SILAHKAN KLIK DAFTAR LABEL DI BAWAH INI UNTUK BISA MELIHAT ISI POSTING SELENGKAPNYA TERIMA KASIH

JALANI HIDUP INI APA ADANYA, SYUKURI APA YANG ADA DAN TERUS BERUSAHA UNTUK MENJADI LEBIH BAIK

Rabu, 31 Oktober 2012

SABLI.COM: MAKALAH TENTANG BEBERAPA PENDEKATAN DALAM PENDIDIKAN AGAMA


BAB VII
BEBERAPA PENDEKATAN DALAM
PENDIDIKAN AGAMA
       

A. PPSI DALAM PENDIDIKAN AGAMA
PPSI adalah singkatan dari Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional. PPSI merupakan acuan logis (menunjuk suatu proses kerja) dalam perencanaan dan pelaksanaan pengajaran sebagai suatu sistem; yaitu berupa kesatuan langkah yang terorganisir, yang memuat sejumlah unsur atau komponen (tujuan, bahan, metode, alat bantu, dan evaluasi pengajaran); semua unsur tersebut saling berinteraksi untuk mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.
PPSI merupakan pendekatan pengajaran yang relatif baru dalam pengembangan dan penataan (pengelolaan) pengajaran di pesekolahan kita, hal ini tercermin dalam :
a.   Pendekatan sistem (bentuk konkretnya adalah PPSI) dikembangkan dan diujicobakan sebagai upaya untuk mencari jawaban dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan sekolah kita yang rendah (sebagaimana dilaporkan oleh para ahli dan peneliti pendidikan sekolah sejak 1968);
b.   Tahun 1972-1973 PPSI tersebut diujicobakan sebagai program pembinaan jabatan guru SD di sekitar Jakarta, Bandung, dan Surabaya; bersamaan dengan itu, PPSI juga diujicobakan dalam pengajaran di SMPP (Sekolah Menengah Pembangunan Persiapan), yang dibina oleh kedelapan IKIP senior di negara kita;
c.   Tahun 1975, melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI., yang bernomor : 008c/U/1975 (yang berisi pembakuan kurikulum SD); 008d/U/1975 (yang berisi pembakuan kurikulum SMP); 008e/U/1975 (yang berisi pembakuan kurikulum SMA); jelaslah bahwa PPSI merupakan pendekatan pengajaran yang diwajibkan dalamm pelaksanaan kurikulum tersebut;
d.   Proses pembakuan kurikulum tersebut berlanjut untuk jenis-jenis pendidikan sekolah yang lain, pembakuan kurikulum sekolah kejuruan di tahun 1976, 1977, dan seterusnya secara tegas juga menyebutkan bahwa PPSI merupakan pendekatan yang diwajibkan. Kebijakan ini tentu saja berdasar pada pertimbangan yang matang, diperkuat dengan bukti-bukti empiris dan keyakinan bahwa para guru beserta pelaksana pendidikan sekolah yang lain dapat dibina kemampuannya untuk mempraktikkan PPSI secara konsekuen (Samana, 1992 : 39-40).
       
Langkah-langkah Kerja PPSI
Seorang guru yang memberikan pengjaran mengenai topik atau satuan bahasan tertentu kepada siswanya pasti dihadapkan pada persoalan sebagai berikut :
a.   Tujuan pengajaran apakah yang ingin dicapainya.
b.   Bagaimanakah penjabaran materi pengajaran yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkannya, sesuai pula dengan perkembangan ilmu serta teknologi yang melatarbelakangi topik atau pokok bahasan dari bidang studi yang diajarkan-nya?
c.   Metode dan alat bantu pengajaran manakah yang harus digunakan agar siswa giat belajar untuk mencapai tujuan pengajaran bagi dirinya ?
d.   Bagaimanakah prosedur untuk mengevaluasi proses serta hasil belajar siswanya ?
e.   Bagaimanakah cara membina semangat serta disiplin kelas yang efektif ?
f. Bagaimanakah mengatur bimbingan belajar lebih lanjut agar setiap siswa berkembang optimal untuk dirinya, mencapai keeimbangan serta keutuhan sebagai pribadi yang sehat, dan berbudi luhur ?
        Untuk menjawab persoalan-persoalan diatas, para guru perlu meningkatkan kecakapan-kecakapan dasar (kompetensi) keguruannya, khususnya guru tersebut cakap mengoperasikan PPSI dalam praktik pengajarannya.
       
A) Perumusan Pujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
1. Kedudukan TPK dalam program dan pelaksanaan pengajaran
Tujuan Pembelajaran  dibedakan menjadi dua macam, yaitu : tujuan pembelajaran  umum (TPU) dan tujuan pembelajaran  khusus (TPK). TPU yang akan dicapai melalui pendalaman pokok bahasan telah termuat dalam kurikulum sekolah (GBPP = Garis Besar Program Pengajaran). TPU secara fungsional menjadi acuan penyusunan TPK.
TPK inilah yang harus disusun oleh para guru; TPK secara nyata mempengaruhi dan mengarahkan seluruh kegiatan belajar-mengajar di kelas. TPK disusun dengan mengacu pada TPU, jenjang serta jenis sekolah, kondisi siswa, dan sifat serta keluasan materi pelajaran.
       
2.   Berbagai pertimbangan dalam penyusunan TPK
a.   TPK merupakan penjabaran dari TPU dan tujuan pendidikan lain yang lebih umum. TPU menunjuk pokok bahasan tertentu dari kesatuan bidang studi dan dari kurikulum  sekolah tertentu, maka topik atau satuan bahasan yang sama tetapi berinduk pada pokok bahasan dari kurikulum sekolah dengan jenjang serta jenis sekolah yang berbeda hendaknya ikut mengarahkan isi TPK, memberi kemungkinan perbedaan titik berat isi TPK yang bersangkutan.
b.   TPK harus memperhatikan sifat bahan (materi pelajaran). Bahwa setiap topik atau satuan bahasan tertentu mengandung sifat-sifat khas sehubungan dengan kemungkinan-kemungkinan nilai pembentukan yang dapat diraih selama pendalam materi pelajaran tersebut.       Nilai pembentukan tersebut dapat mencakup nilai kogni-tif (akademis), nilai afektif (terutama nilai hidup dan sikap-sikap sosial), dan nilai pembentukan psikomotoris (ketrampilan motoris), dengan kadar yang berbeda-beda.
      Pembahasan topik atau satuan bahasan yang berasal dari bidang studi agama adalah wajar jika mengutamakan pembentukan nilai afektif, justru dalam hal ini akan menjadi sumbang jika dalam pembahasan topik atau satuan bahasan bidang studi agama mengutamakan pembetkan kognitif atau ketrampilan motoris.
c.   TPK dan seluruh komponen serta kegiatan pengajaran yang lain mesti berpusat pada kepentingan siswa yang belajar. suatun kewajiban bagi guru untuk mendalami psikologi agar mereka memahami secara fungsional tentang kondisi psikis siswa serta kebutuhan-kebutuhannnya. Tujuan pendidikan dan usaha pendidikan (termasuk di sekolah) adalah mengusahakan agar para siswa belajar dan  mampu menyelesaikan tugas per-kembangan dirinya. (Lihat : EB Hurlock, 1973 : 6 dan EB Hurlock, 1978 : 39).
d.   Selain mempertimbangkan isi TPK, dalam perumusan TPK para guru dituntut untuk dapat merumuskan TPK dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar; pola kalimatnya jelas dan benar, pilihan kata-katanya tepat serta operasional, dan gaya bahasanya sederhana (lugas).
Jika syarat-syarat di atas dipenuhi, ada harapan bahwa TPK yang disusun oleh guru akan bermutu baik ditinjau dari segi isi maupun dari segi pembahasannya.
       
3.   Ciri-ciri TPK yang baik
a.   TPK merupakan bentuk tingkah laku (kecakapan atau ekspresi nilai-nilai tertentu) yang merupakan hasil belajar siswa.
b.   TPK merupakan hasil belajar, bukan menunjuk proses belajar.
c.   Setiap TPK hendaknya hanya menunjuk satu jenis tingkah laku (kecakapan dan atau ketrampilan sebagai hasil belajar).
d. TPK hendaknya dirumuskan dengan menggunakan kata-kata yang operasional (setiap kata menunjuk arti yang tunggal, secara keseluruhan isi TPK menunjuk satu jenis tingkah laku, yang teramati (dapat dievaluasi), dan yang realistis atau terjangkau oleh kemampuan siswa).
e.   Isi TPK hendaknya cukup berbobot, jangan menetapkan sasaran belajar siswa yang remeh-remeh (kurang penting).(Lihat: Samana, 1992 : 47-50).
       
B) Mengembangkan alat penilaian (Evaluasi)
       
Dalam perencanaan pengajaran model lama, penyusunan alat evaluasi dilaksanakan pada langkah terakhir (sebagaimana termuat dalam persiapan tertulis sebelum pelaksanaan pengajaran dan juga dalam urutan langkah praktik pengajarannya); lain halnya dengan PPSI., penyususnan alat evaluasi pengajaran yang menjadi agian integral satuan pengajaran tersebut disusun oleh guru pada langkah kedua (segera setelah TPK selesai dirumuskan) (Samana, 1992 : 50).
Fungsi alat evaluasi dalam PPSI ialah untuk mengecek sejauh mana para siswa telah menguasai kecakapan atau ketrampilan tertentu sebagai hasil belajarnya, seperti yang telah ditetapkan sebagai tujuan belajarnya (TPK). jadi alat evaluasi dalam PPSI berorientasi pada TPK.
Kegiatan pengukuran serta penilaian dalam PPSI ini disebut penilaian formatif. Keluasan bahan tes formatif, sistematika perencanaan serta pelaksanannya, intensitasnya (tingkat kedalaman dan tingkat kesukaran) dan dampak administrasinya, secara logis dapat diperbandingkan dengan tes sumatif. Tes sumatif mencakup bahan yang luas, terencana secara ketat, membutuhkan waktu khusus dalam pelaksanannya, komprehensifdan nilai yang dihasilkan dari tes sumatif menjadi masukan utama dalam penetuna nilai rapor atau kelulusan seseorang dari jenjang sekolah tertentu.
Taraf keberhasilan yang dibakukan dalam PPSI dan dinaggap wajar dalam situasi pendidikan sekolah di Indoensia adalah 75% (pencapaian kebenaran yang terjadi = factual) (Samana, 1992 : 52).
       
C)  Menetapkan Kegiatan Belajar Mengajar
Untuk mencapai tujuan pengajaran (TPK) yang telah ditetapkan, siswa harus berkegiatan belajar yang terarah. Macam kegiatan belajar yang mungkin dilakukan oleh siswa tersebut banyak ragamnya;  dalam hal ini guru perlu memberi pengarahan dan bersama siswa memilih serta melaksanakan jalan atau kegiatan belajar yang efektif dan efisien.
Kegiatan belajar mengajar perlu diatur secara bersistem dan metodis. dalam menetukan metode dan alat bantu pengajaran yang akan dipergunakan untuk mencapai tujuan (TPK), para guru dituntut kemampuannya dalam :
a.   Menyadari bahwa isi TPK, sifat materi pengajaran dan fasilitas adalah dasar untuk menentukan metode dan alat bantu pengajaran;
b.   Menguasai berbagai metode secara satu persatu,, kombinasi atau integrasi.
c.   Mempertimbangkan fasilitas (alat-alat bantu pengajaran) yang ada.
d.   Dalam setiap pelaksanaan metode pengajaran tertentu harus mempertimbangkan kondisi serta situasi siswa dan hendaknya diusahakan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pengajaran.
e.   Apakah guru yang bersangkutan benar-benar mampu (cakap) melaksanakan dan atau menggunakan metode beserta alat bantu pengajaran yang dipilihnya? dalam hal ini unsur subjektivitas guru (sifat kepribadian dan variasi kecakapan guru) tak dapat dihindari (pasti ada pengaruhnya).
       
D) Merencanakan Program Kegiatan
Dalam langkah keempat dalam PPSI ini, tugas guru adalah
1. Menjabarkan materi pelajaran.
2. Menentukan alokasi (jatah) waktu yang diperlukan dalam pengajaran (per SP).
3. Menyususun SP secara definitif.
       
E) Melaksanakan Program
Pelaksanaan program merupakan langkah terakhir dalam PPSI. Langkah ini terdiri dari tiga macam kegiatan utama, yaitu :
       
1. Mengadakan pre-test
                  Tes yang diberikan kepada siswa diawal pelajaran ini adalah tes yang telah disusun oleh guru di langkah kedua. Fungsi dari pre test ini untuk menilai sampai sejauh mana para siswa telah menguasai kecakapan dan atau ketrampilan yang tercantum di dalam TPK., sebelum mereka mengikuti program pengajaran yang telah disiapkan oleh guru dalam SP. Hasil dari pre-test sebagai bahan pembanding terhadap hasil post-test (yang diberikan di akhir pelajaran atau di akhir pelaksanaan SP).
       
2. Guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa
                  Rumusan yang lebih tepat adalah guru membimbing siswanya untuk mendalami dan menguasai materi pelajaran dalam rangka mencapai TPK.                  Dalam kegiatan ini hendaklah guru tetap berpedoman pada TIK, penjabaran materi, dan alokasi waktu yang disediakan untuk SP yang bersangkutan. Modifikasi dari hal-hal yang telah direncanakan dimungkinkan sejauh situasi pengajaran menghendakinya dan juga berdasar pertimbangan yang kritis serta mapan.
                  Sangat baik apabila guru berhasil membimbing siswa belajar secara bermotivasi dan bertujuan, kemampuan-kemampuan yang terumus dalam TPK dihayati oleh siswa sebagai tujuan belajarnya yang brmakna serta memuaskan bagi dirinya. Penguasaan materi pelajaran adalah jalan untuk mencapai tujuan pengajaran (TPK).
       
3. Mengadakan Post-test
                  Post-test yang telah disusun oleh guru di langkah kedua diberikan kepada para siswa setelah mereka mengikuti program pengajaran. Kondisi post-test ini identik dengan pre-test yang diberikan diawal pengajaran; jadi perbedan antara post-test dengan pre-test hanyalah terletak pada waktu penyelenggaraannya dan fungsi dari masing-masing tes tersebut.
       
B.    MODUL DALAM MENGAJAR AGAMA
        a.  Pengertian Pengajaran Modul
Yang dimaksud dengan pengajaran modul adalah modul pengajaran, selanjutnya untuk mempermudah pemahaman maka digunakan istilah "modul"
Modul adalah suatu paket pengajaran yang memuat satu unit konsep daripada bahan pelajaran (Vembriarto, 1981 : 20).  Pengajaran modul itu merupakan usaha penyelenggaraan pengajaran individual yang memungkingkan siswa menguasai satu unit bahan pelajaran sebelum dia beralih kepada unit berikutnya. Maka yang dimaksud modul adalah suatu kesatuan program belajar mengajarterkecil dan dalam pelaksanaanya pada hakekatnya adalah suatu multi approach atau multi media yang dapat diartikan sebagai suatu sistem penyampaian yang berdasarkan pendekatan ganda.
Drs. B Suryo Subroto  dalam bukunya "Sistem Pengajaran Dengan Modul" sebagaimana dikutip oleh Wardji memberikan pengertian sebagai berikut: " Suatu modul adalah satu unit program belajar mengajar terkecil yang secara terperinci menggariskan: (1). Tujuan intruksional yang akan dicapai; (2). Topik yang akan dijadikan pangkal proses belajar mengajar; (3). Pokok-pokok materi yang akan dipelajari; (4). Kedudukan dan fungsi modul dalam kesatuan program yang lebih luas; (5). Peranan guru dalam proses belajar mengajar; (6). Alat-alat dan sumber yang akan dipergunakan; (7). Kegiatan-kegiatan belajar yang harus dilakukan dan dihayati oleh murid secara berurutan; (8). Lembaran kerja yang harus diisi oleh anak; (9). Program evaluasi yang akan dilaksanakan.
Sebetulnya dari ketiga pengertian diatas adalah sama yaitu sama-sama memberikan pengertian bahwa yang dimaksud modul adalah satu paket/program pengajaran yang terdiri dari satu unit konsep bahan pelajaran atau program belajar mengajar terkecil, namun dari ketiga pengertian diatas ada yang dibahas secara global dan ada yang secara terperinci.
Adapun sifat-sifat modul yaitu :
1.   Modul itu merupakan unit pengajaran terkecil dan lengkap.
2.   Modul itu memuat rangkaian kegiatan belajar yang direncanakan dan sistematik.
3.   Modul memuat tujuan belajar yang dirumuskan secara jelas dan spesifik (Khusus).
4.   Modul memungkinkan siswa belajar sendiri (independent).
5. Modul merupakan realisasi pengakuan perbedaan individual dan merupakan salah satu pewujudan dari  pengajaran individual.
       
b.   Unsur-Unsur Modul
Berdasarkan batasan pengertian tentang modul sebagaimana tertera diatas maka dapat diuraikan secara terperinci unsur-unsur modul. Modul yang dikembangkan di Indonesia dewasa ini  di dalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut : 1. Rumusan tujuan pengajaran yang eksplisit dan spesifik. 2. Petunjuk untuk guru. 3. Lembaran kegiatan siswa. 4. Lembaran kerja bagi siswa. 5. Kunci lembaran kerja. 6. Lembaran evaluasi. 7. Kunci lembaran evaluasi.
       
1. Rumusan Tujuan Pengajaran yang eksplisit dan spesifik
                  Tujuan pengajaran atau tujuan belajar tersebut dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Masing-masing rumusan tujuan itu melukiskan tinghkah laku mana yang diharuskan dari siswa setelah mereka menyelesaikan tugasnya dalam mempelajari suatu modul. Rumusan tujuan pengajaran atau belajar itu tercantum pada bagian (a) Lembaran kegiatan siswa, dan (b) petunjuk guru.

2. Petunjuk untuk Guru
                  Petunjuk untuk Guru itu memuat penjelasan bagaimana pengajaran itu dapat diselenggarakan secara efisien, petunjuk guru memuat penjelasan tentang macam-macam kegiatan yang harus dilakukan oleh kelas, waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul yang bersangkutan, alat-alat pelajaran dan sumber yang harus di pergunakan, prosedur evaluasi dan jenis alat evaluasi yang dipergunakan.
       
3. Lembaran Kegiatan Siswa
                  Lembaran ini memuat materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa. Materi dalam lembaran kegiatan siswa itu disusun secara khusus sedemikan rupa sehingga dengan mempelajari materi tersebut tujuan-tujuan yang telah dirumuskan dalam modul itu dapat tercapai, materi pelajaran itu disusun langkah demi langkah secara teratur dan sistematis sehingga siswa dapat mengikutinya dengan mudah dan tepat. Dalam lembaran itu dicantumkan pula kegiatan-kegiatan (observasi, percobaan dan sebagainya) yang harus dilakukan oleh siswa. Juga dicantumkan pula buku-buku yang harus dipelajari oleh siswa sebagai pelengkap materi yang terdapat dalam modul.
       
4. Lembaran Kerja bagi Siswa
                  Materi pelajaran dalam kegiatan itu disusun sedemikian rupa sehinggasiswa terlibat secara aktif dalam proses belajar. Dalam lembaran kegiatan itu tercantum pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah yang harus dijawab dan dipecahkan oleh siswa. Lembaran kerja yang menyertai lembaran kegiatan siswa itu dipergunakan untuk menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah tersebut. Pada lembaran kegiatan siswa tidak boleh membuat coretan apapun karena buku modul itu akan dipergunakan oleh siswa-siswa lain diwaktu-waktu yang akan datang. Semua kegiatan siswa dilakukan pada kertas lembaran kerja.
       
5. Kunci Lembaran Kerja
                  Materi pada modul itu tidak saja disusun agar siswa senantiasa aktif memecahkan masalah-masalah melainkan juga dibuat agar siswa dapat mengevaluasi hasil belajarnya sendiri, sebab itu pada tiap-tiap modul selalu disertakan kunci lembaran kerja. Kadang-kadang kunci lembaran kerja itu telah tersedia pada buku modul. Juga kadang-kadang kunci tersebut harus dimintanya pada guru. Dengan adanya kunci tersebut siswa dapat mengecek hasil pekerjaannya. Denganb adanya kunci lembaran kerjka itu terjadi konfirmasi dengan segera terhadap jawaban-jawaban yang salah ini yang dimaksud dengan reinforcement langsung atas response-response siswa.
       
6. Lembaran evaluasi
                  Tiap-tiap modul disertai lembaran evaluasi yang berupa test dan rating scale. Evaluasi guru terhadap tercapai atau tidaknya tujuan yang dirumuskan pada modul oleh siswa ditentukan oleh hasil test akhir yang terdapat pada lembaran evaluasi itu dan bukannya oleh jawaban-jawaban siswa yang terdapat dalam lembaran kerja. Siswa-siswa yang malas hanya menyalin kunci jawaban kedalam lembaran kerjanya akan segera sadar bahwa dengan cara bbelajar semacam itu dia tidak akan siap menghadapi test akhir yang akan diberikan oleh guru. Lembaran evaluasi dan kuncinya ini senantiasa disimpan oleh guru sendiri.
       
7. Kunci Lembaran Evaluasi
Test dan rating scale yang tercantumn pada lembaran evaluasi itu disusun oleh penulis modul yang bersangkutan. Item-item test disusun dan dijabarkan dari rumusan-rumusan tujuan pada modul. Sebab itu dari hasil jawaban siswa terhadap test tersebut dapatlah diketahui tercapai atau tidaknya tujuan yang dirumuskan pada modul yang bersangkutan. Kunci jawaban test dan rating scale itu juga disusun oleh penulis modul.
Juga dalam buku "Sistem pengajaran dengan modul" karangan Drs. B. Suryo Subroto menyebutkan tentang unsur-unsur modul itu hanya enam macam. Demikian juga menurut Drs. Wadji R. di dalam bukunya "Program belajar mengajar dengan prinsip belajar tuntas", keenam tersebut antara lain : 1. Pedoman guru/pedoman untuk guru; 2. Lembaran kegiatan siswa; 3. Lembaran kerja; 4. Kunci lembaran kerja; 5. Lembaran test; 6. Kunci lembaran test.

c.   Macam-macam Modul
Menurut status dan fungsinya dalam keseluruhan program pengajaran maka modul dapat dibedakan menjadi dua macam :
1.   Modul inti; yaitu kurikulum dasar yang dapat dijabarkan dalam serangkaian unit-unit program pengajaran menurut tingkat (kelas) dan menurut bidang studi (mata pelajaran). Unit-unit program pengajaran itu dapat disusun dalam bentuk modul-modul pengajaran.
2.   Modul pengayaan; yaitu suatu program pendidikan tambahan bagi siswa-siswa yang telah menyelesaikan program pendidikan dasarnya dengan waktu yang lebih cepat. Program penga-yaan ini bersifat memperluas dan atau memperdalam program pendidikan dasar yang bersifat umum itu.
Dari pengertian modul inti dan modul pengayaan tersebut diatas dapatlah diberikan suatu analisis yang mudah dimengerti, yakni bahwa suatu modul inti pada dasarnya merupakan program pendidikan dasar yang harus ditempuh oleh setiap siswa dalam tingkat (kelas) atau disebut dengan modul dasar atau kurikulum dasar. Suatu contoh : bagi siswa kelas I SMA, maka untuk modul intinya (modul dasar) adalah seluruh mata pelajaran yang terdapat pada kurikulum untuk kelas I.
Adapun modul pengayann atau program pengayaan adalah suatu program pengajaran tambahan yang diberikan bagi mereka (siswa) yang telah berhasil menyelesaiakn program pendidikan dasar (modul inti) dengan waktu yang relatif singkat daripada waktu yang telah di tentukan sehingga mereka masih mempunyai sisa waktu untuk memperluas atau memperdalam pengetahuan dalam program pendidikan dasarnya. Contoh: Bagi siswa kelas I yang telah menyelesaikan mata pelajaran biologi (modul intinya) dengan waktu yang cepat dari waktu yang diberikan maka siswa tersebut dapat memperluas pengetahuanya dengan mengambil mata pelajaran lain (selain biologi) sebagai program pengayaan atau modul pengayaanya dan atau mengambil mata pelajaran biologi tersebut untuk dipelajarinya lebih mendalam (mendetail).
Perlu diketahui pula bahwa program pengayaan itu tidak selalu berbentuk modul pengayaan tetapi program pengayaan tersebut dapat berbentuk:
1.   Modul Pengayaan.
2.   Kegiatan-kegiatan lain yang tidak berbentuk modul tetapi fungsinya sebagai kegiatan pengayaan. Suatu misal: kegiatan siswa membantu tugas-tugas guru menyiapakn dan mengatur buku-buku dan alat pelajaran. Kegiatan membantu siswa lain yang mengalami kesukaran-kesukaran dalam menyelesaiakn modul inti, memelihara ternak atau tanaman di kebun sekolah, studi bebas di perpustakaan sekolah dan sebagainya.
       
d.   Kedudukan Modul Dalam Keseluruhan Kurikulum
 Membicarakan kedudukan modul dalam keseluruhan kurikulum berarti mencari hubungan antara modul dengan kurikulum, mencari status modul dalam konteks kurikulum sebagai keseluruhan. Kurikulum sebenarnya tidak lain dari pada wahana untuk mencarai tujuan pendidikan tetapi tujuan pendidikan yang mana, karena kita mengenal bermacam-macam tujuan pendidikan yang tersusun secara hirarkhik sub-ordinatif.
 Dari uraian di atas jelaslah bahwa yang dimaksud dengan kedudukan modul dalam keseluruhan kurikulum ialah suatu tempat yang terkecil dari pada keseluruhan kurikulum dalam pendidikan yang dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dari modul yang dikembangkan menjadi intruksional, dari tujuan intrusional menjadi tujuan umum pendidikan.
Dari uraian dan penjelasan di atas dapatlah kita ambil suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan kedudukan modul dalam keseluruhan kurikulum yaitu mencari status atau tenpat yang akan diduduki oleh modul dalam keseluruhan kurikulum pendidikan yang dapat dikembangkan untuk mencapai tujuan instruksional-tujuan kurikuler-tujuan institusional-dan tujuan umum pendidikan.
       
e.   Penerapan sistem modul untuk pendidikan agama
Sebagai suatu alternatif tentang penerapan sistem modul untuk pendidikan agama Islam maka titik tolak pembahasannya adalah kurikulum pendidikan Agama Islam itu sendiri. Sebab dalam kurikulum pendidikan agama Islam telah mencakup pelbagai aspek seperti : 1. Tujuan; 2. Bahan/materi; 3. Metode; 4. Alat; 5. Evaluasi.
       
1. Tujuan
Di dalam kurikulum pendidikan agama Islam pemerintah c.q. departemen Agama telah merumuskan tujuan-tujuan pendidikan agama Islam, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional umum dan khusus. Dengan adanya tujuan tersebut, maka tidaklah terdapat suatu kesulitan untuk menyusun modul pendi-dikan agama Islam, hal ini diebabkan karena langkah pertama dalam penyusunan modul untuk suatu bidang studi adalah perumusan tujuan-tujuan secara eksplisit (terperinci).

2. Bahan/materi
Pendidikan agama Islam sebagai sutau mata pelajaran yang berdiri sendiri mempunyai banyak bahan/materi pelajaran. Di antara bahan tersebut ada yang mempunyai sifat khusus. Dalam hal ini cara penyajiannya pun harus bersifat khusus pula, materi pelajaran itu adalah masalah akidah, yaitu penanaman keyakinan kepada anak (siswa) dan masalah ibadah yang banyak memerlukan pengamalan. Namun di lain itu masih banyak bahan/materi pelajaran pendidikan agama Islam yang bersifat ilmu pengetahuan,, seperti : pembagian zakat, mawaris (pembagian waris), muamalah (jual beli), munakahat (perkawinan) dan lain-lain.
Dengan demikian dapat diambil suatu gambaran bahwa bahan/materi mana yang dapat dimodulkan dan bahan/materi mana yang tidak dapat dimodulkan. Sedang untuk mengatasi kesulitan dalam  memodulkan bahan/materi pelajaran yang menyangkut masalah akidah dan syari'ah/ibadah yang mempunyai sifat khusus tentunya dapat dipergunakan pula metode lain seperti metode ceramah, metode drill dan lain-lain sebagai pembantu dalam penyajian bahan tersebut.
       
3. Metode
Dalam pendidikan agama Islam juga terdapat banyak metode yang dipergunakan untuk menyajikan bahan/materi pelajarannya. Demikian pula dalamm sistem modul juga dikenal metode pengajaran yaitu; multi metode (banyak metode). dengan adanya metode pengajaran yang dipergunakan di dalam sistem modul jelas merupakan modul untuk menyajikan perubahan materi pelajaran pendidikan agama Islam yang mempunyai sifat khusus seperti masalah akidah dan syariah/ibadah, sehingga memungkinkan sekali apabila materi pelajaran agama Islam diterapkan melalui sistem modul.
       
4. Alat
Sebagaimana lazimnya suatu pengajaran, maka disana tentu terdapat alat pelajaran sebagai alat bantuuntuk mengajarkan suatu bahan/materi. Di dalam pendidikan agama Islam dikenal alat pelajaran yang dipandang sangat penting yaitu Kitab suci Al-Qur'an dan kitab-kitab lain di samping alat pelajaran lain seperti alat peraga dan alat tulis dan lain-lain. Dalam hal ini bukanlah suatu masalah apabila pendidikan agama Islam diterapkan melalui sistem modul, karena alat yang dipakai dalam sistem modul juga tidak jauh dari alat-alat yang dipergunakan di dalam pendidikan agama Islam yaitu kitab-kitab dan buku-buku perpustakaan yang lain, bahkan penyajian pelajaran untuk pendidikan agama Islam akan lebih berhasil apabila diterapkan melalui sistem modul, karena di dalam sistem modul dipergunkan alat peraga dalam menyajikan bahan pelajarannya.
       
5. Evaluasi
Di dalam pendidikan agama Islam kita kenal sistem penilaian (evaluasi) baik lisan maupun tulis. Adapun sistem yang biasa dipakai di dalam penialaian (evaluasi) untuk menentukan taraf kemampuan murid terhadap pelajaran yang telah diterima adalah formatif (harian)  dan sumatif (semesteran) serta EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir).
Dalam hal ini sama halnya dengan sistem penilaian yang dipergunakan dalam sistem modul pada umumnya, namun apabila pendidikan agama Islam diterapkan dengan sistem modul adalah standar nilai yang harus diperoleh oleh setiap siswa untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya. Dalam sistem modul dipergunakan sistem belajar tuntas (mastery learning) yaitu seorang seorang siswa baru boleh melanjutkan pelajaran berikutnya apabila nilai yang diperoleh adalah 75% benar sedang apabila minimal tersebut (75% benar) tidak diperoleh maka seorang siswa harus mengulang kembali pelajaran tersebut. Inilah yang membedakan pendidikan agama Islam yang diterapkan melalui sistem pengajaran yang biasa dipergunakan dengan sistem pengajaran modul. Dengan ketentuan diatas mampukah guru pendidikan agama Islam menggunakan sistem penilaian dengan sistem yang digunakan di dalam sistem modul yaitu sistem Belajar Tuntas (mastery learning). Apabila dipandang mampu maka hasilnya akan lebih positif daripada hasil yang diperoleh melalui sistem pengajaran yang lain.
Dari uraian diatas jelas bahwa penerapan sistem modul untuk pendidikan agama islam jika ditinjau dari segi kurikulum bisa diberikan. Maksudnya bahwa pendidikan agama bisa diterapkan dengan melalui sistem modul.
Namun demikian dalam pelaksanaan sistem modul hendaknya bukan merupakan satu-satunya metode. Oleh karena untuk beberapa pokok bahasan/sub-pokok bahasan pendidikan agama, sistem modul ini kurang efektif penggunannya. Misalnya dalam masalah keimanan dan beberapa kaifiah ibadah. Maka dalam penerapannya hendaknya dikombinasikan dengan metode dan media lainnya. Oleh karena itu guru agama dituntut untuk memiliki dedikasi yang besar di samping kreativitas yang tinggi.
       
C. CARA BELAJAR SISWA AKTIF (CBSA)
a.   Pengertian CBSA
CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) sama pengertiannya dengan SAL (student Active Learning)(Raka Joni, 1980:1;Nana Sudjana, Daeng Arifin, 1988:32).
CBSA asas dan strategi pembelajaran yang harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk kegiatan belajar yang relevan. Prinsip CBSA yang analog dengan asas siswa aktif adalah bukan hal baru dalam perencananan serta praktik pendidikan di sekolah, sejak akhir abad 19 di Eropa dan Amerika telah tampak usaha-usaha untuk merintis serta menerapkan asas dan bentuk CBSA., khususnya di Indonesia penerbitan buku teori keguruan juga telah membahas asas belajar anak aktif dan bentuk-bentuk belajar yang relevan dengannya.
Untuk mendefinisikan pengertian CBSA secara tegas adalah sulit, karena dalam kondisi situasi manapun, baik ditinjau dari perbedaan kurun waktu, sudut pandang teoritis, sasaran serta isi belajar maupun bentuk serta metode belajar siswa pastilah mengandung unsur keaktifan siswa dengan kadar yang berbeda-beda. Di pihak lain ada keaktifan belajar siswa yang mudah diamati dan diukur (misalnya : belajar ketrampilan motoris), dan ada kegiatan belajar siswa (sampai taraf keaktifan yang tinggi) sulit diamati dan diukur (misalnya : belajar kognitif tingkat tinggi dan belajar afektif, khususnya internalisasi nilai hidup); hal ini juga menyulitkan untuk menentukan tolo ukur, penggolongan, dan pembatasan konep CBSA.
Hakikat CBSA pada dasarnya menunjuk taraf keaktifan belajar siswa yang relatif tinggi, usaha-usaha mengoptimalkan kegiatan belajar siswa, dan kegiatan (aktivitas) belajar siswa tersebut tak sekedar motoris tetapi lebih-lebih keaktifan mental serta emosional, CBSA mengandaikan kegiatan belajar siswa yang berciri: kegiatan kognitif bertaraf tinggi, siswa bergairah belajar (bermotivasi, bersemangat, senang, dan ulet dalam menghadapi tantangan), terarah (sasaran serta isinya jelas, dan bermakna bagi diri siswa), dan reflektif (mawas diri, emanfaatkan jasa umpan balik, siap untuk mengadakan pembenahan (remidial), dan pengembangan lebih lanjut).
Salah satu cara untuk meninjau seberapa jauh kadar ke-CBSA-an pola pembelajaran (praktik belajar-mengajar) telah dijabarkan oleh McKeachie (1954) dengan mempertimbangkan kualitas tujuh dimensi pembelajaran sebagai berikut :
1.   Seberapa jauh partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan kegiatan belajar-mengajar.
2.   Adanya pengutamaan aspek afektif dalam pembelajaran.
3.   Partisipasi siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar, terutama yang berbentuk interaksi antar siswa.
4.   Adanya ketulusan penerimaan pengajar (acceptance) terhadap perbuatan dan sumbangan (kontribusi) siswa, baik yang relevan maupun yang kurang relevan, bahkan yang salah.
5.   Adanya kekohesifan kelas sebagai kelompok belajar.
6.   Adanya kebebsan atau lebih tepat adanya kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolahnya.
7.   Seberapa banyak waktu yang dipergunakan untuk menanggulangi masalah pribadi siswa, baik yang berhubungan dengan pelajaran maupun yang tidak berhubungan dengan pelajaran.
Pelaksanaan CBSA di sekolah merupakan tantangan bagi guru, iswa, dan pihak-pihak lain (terutama administrator) yang terlibat dalam penyelenggraan sekolah; pendapat yang mengatakan jika siswa aktif (CBSA berlangsung dengan baik) maka tugas guru menjadi ringan atau mudah adalah salah sama sekali. CBSA menuntut kerja keras dan penuh kerjasama semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan sekolah.
Memang perlu diakui adanya pergeseran peran guru, yaitu : mula-mula guru berperan informatif-direktif, kemudian guru berperan sebagai fasilitator-organisator, dan jika siswa telah dapat mandiri serta bertanggung jawab atas dirinya peran guru menjadi teman seperjalanan dengan siswa.
CBSA yang mengarah kepembentukan yang uutuh dalam diri siswa (mencakup ranah kognitif, afektif, dan piko-motoris) juga sejalan dengan pandangan belajar kemanusiaan; menurut Moh. Amien (1979 : 11-28), pndekatan belajar-mengajar kemanusiaan tersebut hendaknya berciri : 
1.   Mampu mengembangkan kesadaran diri siswa serta konsep dirinya yang positif, percaya pada diri sendiri berdasarkan pada kemampuan nyata untuk menyongsong masa depan;
2.   Mampu mengembangkan kreativitas siswa (memerlukan pengetahuan luas dan mendasar, logis (berstruktus), komunikatif (lancar mengekspresikan diri), peka terhadap situasi baru atau masalah yang dihadapinya, dan adanya keberanian memikul tanggung jawab);
3.   Sampai dengan pengembangan serta pengamalan nilai yang mendamaikan sosialnya (siswa tahu, mau dan melaksanakan nilai (termasuk moral) dalam hidupnya);
4.   Paham baru dalam praktik pengajaran mengharuskan para guru untuk memperhatikan serta membimbing keutuhan perkembangan diri siswanya, seluruh potensi yang dimiliki para siswa dibina serta diperkembangkan secara terpadu dan optimal bagi dirinya.
       
b.   Bentuk-bentuk CBSA
Kenjelasan konsep CBSA, penataan administratif persekolahan, kecakapan profesional para guru, dan kelengkapan sarana pengajaran sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan CBSA; dalam hal yang berbuhungan dengan  beban  belajar  yang  berlebihan  dan  cakupan           yang terlalu luas dapat menghambat pelaksanaan CBSA.
Secara garis besar ciri-ciri bentuk pengajaran CBSA yang berhasil, adalah yang memberi peluang siswa untuk aktif, mendayagunakan sgala kemampuannya secara optimal, banyak usaha atau kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa secara terarah, dibawah bimbingan guru yang kreatif, dan penuh pengabdian.
Sehubungan dengan hal ini, Nana Sudjana dan Daeng Arifin (1988 : 33,34) menegaskan bahwa praktik CBSA yang berhasil berciri :
1.   Dari sudut siswa, tampak adanya keinginan yang kuat untuk belajar,kadar kegiatan (partisispasi) belajar yang tinggi, berani menampilkan diri dan kreatif, berkeleluasan melaksanakan kegiatan belajar secara terarah (berkemandirian belajar).
2.   Dari sudut guru, tampak adanya aneka usaha untuk memotivasi belajar siswa, kecekatan dalam mengorganisir pengajaran, kesediaan gurur menerima sumbangan siswa, dan kesediaan guru membantu siswa mengatasi masalah pribadinya.
3.   Dari sudut program, tampak adanya program yang sesuai dengan tujuan (kebutuhan siswa), program tersebut cukup jelas batas-batasnya dan sekaligus menantang siswa, dan bahan tersebut mengandung isi peran yang lengkap.
4.   Dari sudut situasi belajar, tampak adanya iklim sosial kelas yang intim, kooperatif, bersemangat, bergembira dalam melaksanakan tugas, dan berdisiplin; tampak adanya persaingan yang sehat baik secara perorangan maupun kelompok.
5.   Dari sudut pengadaan sarana belajar, tampak adanya kelengkapan sumber belajar, sarana belajar, media belajar, fleksibilitas pengaturan waktu belajar, dan adanya kemungkinan siswa belajar di dalam atau di luar kelas.
Bentuk pelaksanaan CBSA dapat bervariasi sebagai berikut :
1.   Praktik CBSA menuntut adanya perencanaan yang cermat agar variasi kegiatan siswa tetap terarah untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan.
2.   Praktik CBSA dapat dilaksanakan secara perorangan dan dapat dilaksanakansecara kelompok.
3.   Praktik CBSA dapat dberlangsung di dalam kelas, dan dimanapun juga sesuai dengan rencana kerja.
4.   Praktik CBSA dapat berlangsung di bawah bimbingan guru dan dan dapat berlangsung tanpa bimbingan guru secara langsung.
5. Praktik CBSA dapat berbentuk penyerapan informasi sampai dengan merancang serta melaksanakan suatu penelitian.
6. Unjuk kerja (performance) para siswa dalam pengajaran CBSA dapat bervariasi dari kegiatan mengingat kembali sampai dengan berkrasi secara otentik.
Pola interaksi KBM sebagai wahana CBSA dapat bervariasi : GURU                      SISWA; SISWA       GURU; dan SISWA              SISWA
       
Pola Guru        Siswa         Isi Pengajarannya :
       
                   G                     - memberi informasi;
                                           - memberi tugas;
                                           - memotivasi;
                                           - membangun apersepsi;
           S1                     Sn   - memberi umpan balik;
                 S2        S3          - membina disiplin kelas atau kerja

Pola Siswa         Guru          Isi kegiatannya :
                  G
                                           - bertanya;
                                           - mengusulkan sesuatu;
                                           - meminta bantuan guru;
                                           - berkonsultasi;
     S1                     Sn                     - melaporkan hasil kerja
S2        S3                           - mengoreksi informasi;
                                           - menjawab pertanyaan guru.
       
       
             

Pola siswa              Siswa     Isi kegiatannya :
       
                       S1                  - tanya jawab;
                                             - diskusi;
                  S2        S3           - adu argumen;
                                             - berdialog;
             S4                  S5      - tutor sebaya;
                                             - problem solving;
                  S6        S7           - demonstrasi;
                                             - eksperimen;
                       S8                  - merancang sesuatu.
       
Dari ketiga diagaram diatas, jelaslah bahwa kegiatan pembelajaran sebagai praktik CBSA sangat bervarasi ditinjau dari jenis metode pengajarannya. Secara garis besar praktik CBSA menerapkan menerapkan metode pengajarannya eklektif (memilih-mengkombinasi-menyajikan keutuhan pesan dengan pertimbangan-pertimbangan yang dapat dipertanggung jawabkan) (Samana, 1992 : 106).
       
c.  Langkah-langkah CBSA
    Merumuskan tujuan pengajaran
Yang dimaksud ialah tujuan instruksional khusus (TIK). Di dalam buku GBPP tujuan instruksional umum (TIU) telah disediakan. Tugas guru merumuskan TIK berdasarkan rumusan TIU tersebut. Dalam garis besarnya rumusan itu mengandung salah satu dari tiga daerah binaan yaitu kognitif, afektif, atau pikomotor.
       
Penilaian
Penilaian dalam proses pengajaran berfungsi sebagai cara mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran dan berapa persen tingkat pencapaian itu. Dalam pembuatan rencana pelajaran perencanaan penilaian dilakukan pada langkah kedua, setelah merumuskan tujuan pengajaran. Dalam pelaksanaan pengajaran penilaian dilakukan pada langkah terakhir.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan penilaian yitu alat penilaian dan prosedur penilaian. Prosedur penilaian maksudnya ialah apakah penilaian akan dilakukan secara lisan, tulisan, atau tindakan. Sedangkan alat penilaian ialah pertanyaan atau tugas yang harus dijawab atau dilaksanakan oleh siswa. alat penilaian mungkin berupa tes essay, tes obyektif, tugas membuat makalah, atau tugas melaksanakan sesuatu yang lain.
       
Prosedur Pengajaran
 Prosedur pengajaran dalam CBSA ditekankan pada kegiatan siswa, bukan pada kegiatan guru. Hal ini merupakan penerapan konsep dasar CBSA itu sendiri, yaitu mengoptimalkan aktivitas murid.
 Untuk mebuat rencana prosedur mengajar dalam rencana pelajaran CBSA langkah pertama ialah memilih bahan pengajaran. Bahan pengajaran itu akan mengisi proses pengajaran tersebut. Kemudian langkah kedua ialah mentukan kegiatan siswa. Unsur ini adalah menetapkan apa yang harus dilakukan siswa dalam mempelajari bahan pelajaran agar siswa menguasai tujuan instruksional khusus, serta bagaimana cara siswa melakukan kegiatan tersebut.
 Berikut ini dikutipkan contoh rencana pelajaran model CBSA yang diambil dari buku Sudjana (1988:94-113) :


RENCANA PELAJARAN CBSA
       
Bidang Studi               : Agama Islam
Sub-Bidang Studi       : Akidah Akhlak
Pokok Bahasan           : Pemaaf, Sabar, Lemah lembut
Kelas                           : II
Catur Wulan                : I
Waktu                         : 2 Jam Pelajaran
       
Tujuan Pembelajaran Khusus
1.   Anak dapat menyebutkan arti pemaaf
2.   Anak bersedia berjabatan tangan sebagai tanda memaafkan kesalahan
3.   Anak dapat menyebutkan nama orang yang ingin membunuh Nabi saw.
4.   Anak dapat menyebutkan arti sabar
5.   Anak dapat menyebutkan bermacam ujian dari Allah untuk mencoba kesabaran kita
6.   Anak dapat menyebutkan beberapa tanda sabar
7. Anak dapat menyebutkan tanda-tanda orang yang lemah lembut dalam perkataan dan perbuatan
8.   Anak dapat menyebutkan kepada siapa harus lemah lembut
       
Kegiatan Belajar Mengajar
1. Anak dibagi menjadi beberapa kelompok sekitar 5 orang setiap kelompok
2. Pembagian lembar kerja
3. Penjelasan singkat mengenai sabar dan akhlak terpuji
4. Anak-anak membaca teks yang berisi uraian tentang sabar, lemah lembut
5. anak-anak membuat laporan kelompok
6. Diskusi kelas dibawah arahan guru sambil membuat kesimpulan
7. Mencatat hal-hal penting

             

LEMBARAN KERJA
Pelajari buku Akidah Akhlak halaman 14
1.   Coba sebutkan apa arti pemaaf?
2.   Apabila kamu bertengkar dengan teman, ucapan apakah yang paling baik kau lakukan?
3.   Baca cerita tentang Nabi Muhammad saw. pada halaman 15. Siapakah yang akan membunuh nabi kita dengan pedang? Apa yang diucapkan oleh Nabi kita Muhammad saw.?
4.   Baca halaman 17. Sebutkan arti sabar!
5.   Semua penderitaan dan kesenangan yang kita rasakan adalah ujian dari ........ Jadi, ujian itu ada dua macam (1) ujian yang ....... dan (2) ujian berupa .........
6.   Baca halaman 19 Orang yang lemah lembut dapat terlihat dalam
              a.  ........................
              b.  ........................
7.   Kita bersikap lemah lembut terhadap ...............
       
       

LEMBAR PENILAIAN
       
Soal-soal :
1. Pemaaf artinya ...........
2. Bila bertengkar dengan tema kita harus saling .........
3. Ketika akan dibunuh dengan pedang nabi Muhammad saw mengucapkan lafal ..
4. Yang akan membunuh nabi tersebut namanya ..............
5. Sabar artinya  ................
6. Semua penderitaan dan kesenangan merupakan ujian dari  ....
7. Sifat lemah lembut dapat terlihat dalam
              a.  .............
              b.  .............
8. Sikap lemah lembut harus diperlihatkan kepada  .........
       
Kunci
           1. Tidak dendam
           2. saling memaafkan
           3. Allah
           4. Da'tsur
           5. Tidak mudah marah
           6. Allah
           7. a. perkataan
              b. perbuatan
           8. Semua orang.


D. BELAJAR TUNTAS (MASTER LEARNING)
       
                  Suatu kenyataan, bahwa di dalam proses belejar mangajar selalu ada siswa yang memerlukan "bantuan", baik di dalam mencerna bahan pengajaran maupun dalam mengatasi kesulitan-kesulitan belajar mereka. Namun dengan adanya inovasi pendidikan di Indonesia yang mengarah belajar siswa aktif, yaitu memberikan peranan aktif bagi siswa. Dengan peranan aktif bagi siswa ini di harapkan penguasaan tuntas bagi setiap mata pelajaran dapat lebih di tingkatkan, sehingga dapat lebih di tingkatka, sehingga tujuan intruksional yang hendak dicapai dengan lebih baik. Dengan demikian berarti proses belajar mengajar dapat di terlaksana lebih efektif dan efisiien. Inovasi di atas merupakan pembaharuan dari sistem lama konvensional. Dimana teori pendidikan konvensional yang beranggapan bahwa para siswa belajar suatu bahanpelajaran di sekolah, maka penyebaran tingkat keberhasilan siswa-siswi tersebut akan mengikuti distribusi normal, masih sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kalau demikian halnya, maka akan berarti bahwa proses belajar mengajar di sekolah hanya mampu menghasilkan lebih kurang  30-50% siswa yang mencapai tingkat keberhasilan (mastery level).
                  Jadi proses belajar mengajar yang menganut teori-teori tersebut tidak evektif dan efisien. Senada dengan teori-teori konvensional di atas adalah anggapan-anggapan dasar yang menyatakan bahwa IQ (intelligensiquotient) atau tingkat kecerdasan alamiah siswa menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain siswa memiliki IQ tinggi, tingkat keberhasilan tinggi juga, sebaliknya siswa yang memiliki IQ rendah, tingkat keberhasilan juga rendah, jadi dengan demikian siswa-siswa yang IQ-nya rendah? apakah mereka di biarkan tetap tidak berhasil atau gagal dalam proses belajar mereka ?.
                  Sehubungan dengan masalah pendidikan di Indonesia, terdapat empat masalah pokok secara umum yaitu :
           1) Masalah yang berhubungan dengan pemerataan pendidikan.
           2) Masalah yang berhubungan dengan relevansi pendidikan.
           3) Masalah yang berhubungan dengan kualitas pendidikan.
           4) Masalah yang berhubungan dengan efisiensi pedidikan.
                  Teori Belajar Tuntas (master-learning) merupakan salah satu inovasi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi serta usaha belajar siswa guna mencapai tingkat tuntas (mastery). Berlaku bagi siswa, baik yang IQ-nya tinggi maupun yang rendah .
                  Implikasi dari belajar tuntas perlu di laksanakan program pengayaan bagi siswa-siswa yang cepat (sudah mastery) dan program kegiatan pembagian bagi siswa-siswa yang lambat (belum mastery), atau yang mengalami kesulitan maupun yang mengalami kegagalan dalam belajar.
       
a. Pengertian Belajar Tuntas
                  Belajar tuntas (master learning) adalah suatu belajar yang mengharapkan siswa dapat menguasai tujuan intruksionalumum (Basic Learning Obyektives) dari suatu satuan atau unit belajar tuntas.
                  Sedang menurut Muhammad Ali  dalam bukunya "Guru Dalam Proses Belajar Mengajar", mengatakan : Belajar Tuntas dapat di artikansebagian penguasaan (hasil belajar ) siswa secara penuh terhadap bahan yang di pelajari.
                  Dengan belajar tuntas proses belajar siswa lebih di arahkan, minat belajar siswa ditingkatkan, sikap yang positif terhadap belajar dan bahan yang di pelajari lebih di tingkatkan dan di kembangkan. Dengan demikian perubahan tingkah laku yang diharapkan pada setiap siswa akan berhasil secara optimal.
                  Pada pokoknya dengan mastery learning (belajar tuntas) ini, siswa harus mencapai tingkat penguasaan tertentu terhadap tujuan-tujuan intruksional dari satuan/unit pelajaran tertentu sebelum pindah ke satuan/unit pelajaran berikutnya.
                  Beberapa presentase tingkat penguasaan tertentu itu tergantung pada beberapa faktor :yaitu diantaranya adalah jenis satuan/unit pelajaran, tingkat pelajaran, jenis mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan pedapat Iscak SW. dan Sarwaji R. yang mengatakan : Tingkatan penguasaan tertentu tergantung beberapa faktor:
1) Jenis satuan/unit pelajaran
              Mata pelajaran tentrang rumus-rumus, menuntut penguasaan yang berbeda dengan pada mata pelajaran tentang penggunaan atau pengetrapan rumus-rumus.
2) Tingkat pelajaran
  Mata pelajaran pada tingkatan permulaan menuntut penguasaan yang berbeda dengan mata pelajaran tingkatan sesudahnya, dan sebagainya.
3) Jenis mata pelajaran
              Mata pelajaran yang menyangkut pendidikan agama dan moral pancasila menurut penguasaan yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Tujuan utama yang di terapkan belajar tuntas (mastery learning), ialah supaya tujuan instruksio-nal yang hendak di capai dapat di capai secara optimal. yaitu dengan prinsip belajar tuntas, maka proses belajar mengajar menjadi efektif dan efisien,yang dalam pelaksanaannya:
- Nilai rata-rata dalam satuan kelas dapat ditingkatkan.
- Jarak antara siswa yang cepat belajar dan lambat belajar semakin pendek.
                  Sebenarnya para ahli pendidikan telah lama memikirkan tentang bagaimana pelajaran dapat berhasil secara maksimal, yang akhirnya muncullah apa yang di sebut dengan belajar tuntas (mastery -learning). para ahli pedidikan tersebut yang mengemukakan masalah belajar tuntas adalah Carliton Washburne (1982) dan Henry C. Marisson (1926) yaitu:
1)   Belajar tuntas senantiasa dihubungkan dengan tujuan pengajaran atau tujuan instruksional khusus (TIK) yang di capai oleh setiap siswa yang meliputi ranah-ranah tingkah laku seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2)   Pengajaran diorganisasikan menjadi satuan-satuan pengajaran tertentu. Setiap satuan terdiri dari kumpulan materi pengajaran yang diatur secara sistimatis untuk di ajarkan agar mencapai tujuan-tujuan satuan pelajaran tertentu.
3) Hasil tes di atas digunakan untuk penyempurnaan bahan pengajaran dan memperbaiki cara belajar dan mengajar agar di harapkan dapat tercapai, dalam bentuk pengajaran kembali, tutorial, dan lain-lain perbaikan cara belajar ini disebut cocretive learning, waktu yang di sediakan untuk ini di tentukan oleh guru tapi dapat juga ditentukan oleh siswa sendiri.
                  Sejak munculnya gagasan Belajar tuntas (mastery learning) ini tahun 1922, baru hangat kembali di bicarakan pada tahun 1963 di Amerika oleh john carrol yang mengemukakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan siswa di sekolah dan adanya interaksi antara faktor-faktor yang berpe-ngaruh tersebut. Faktor tesebut adalah :
                  - Bakat
                  - Ketekunan
                  - Kualitas pengajaran
                  - Kesanggupan menangkap pelajaran
                  - Kesempatan yang tersedia untuk belajar.
                  Adanya interaksi kelima faktor-faktor dapat dijelaskan sebagai mana berikut ini: Apabila sisiwa diberi kesempatan yang sama, maka mereka menggunakan waktu yang dibutuhkannya utnuk belajar dan ia menggunakan dengan sebaik-baiknay, maka ia akan mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Tetapi sebaliknya bila waktu yang dibutuhkannya tidak diperolehnya, maka tingkat hasil belajarnya tergantung pada ratio atau perbandingan waktu yang sesungguhnya di butuhkanya.
     Waktu yang dibutuhkan sisiwa ditentukan oleh:
                  - Bakat
                  - Kualitas pengajaran
                  - Kemampuan untuk mengerti pelajaran
       
                  Sebagai mana dijelaskan di atas bahwa tujuan utama daripada belajar tuntas adalah meningkatkan efesien belajar, minat belajar dan sikap siswa yang positif terhadap kesatuan kelas. Dari tujuan tersebut jalaslah bahwa belajar tuntas mengutamakan keberhasilan siswa dalam belajar. Untuk ini bukan metode belajar siswa yang menjadi perhatian siswa, tetapi metode mengajar gurupun mendapatkan perhataian sepenuhnya. Metode guru bukan dalam arti sempit, akan tetapi dalam arti yangluas yaitu menyangkut semua pengetahuan guru yang berhubungan dengan keberhasilan dalam mengajar. Guru harus merumuskan tujuan yang jelas dan tepat.
                  Dengan tujuan yang jelas, guru mudah menentukan:
           1. Materi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
           2. Kegiatan belajar yang bagaimana yang diperlukaN.
           3. metode apa yang cocok yang akan digunakan.
           4. Alat dan sumber yang diperlukan.
           5. Bentuk dan soal-soal (evaluasi) yang bagaimana yang diperlukan.
                  Belajar tuntas menuntut kemampuan guru menyusun urutan materi yang tepat yang akan memudahkan bagi setiap siswa menyerap bahan tersebut. Belajar tuntas mengharapkan semua siswa dapat mencapai hasil yang setinggi-tingginya dengan memperhatikan dengan cermat strategi yang digunakan dan komponen-komponen yang menunjang keberhasilan yang ditargetkan.
       
b. Prinsip ilmiah yang mendasar belajar tuntas
                 Ada beberapa asumsi atau anggapan dasar yang erat kaitanya dan yang mendasari konsep serta teori belajar tuntas (mastery learning) antara lain teori-teori konvensional, pendapat-pendapat dari John B. Carrol, Benyamin S. Bloom dan James H. Block.
                  Berdasarkan teori-teori konvensional yang sampai sekarang masih berpengaruh pada pelaksanaan proses belajar mengajar, khususnya di Indonesia yaitu taori-teori yang pada pokoknya menitik beratkan pada teori bakat atau pembawaan atau IQ siswa dalam hubunganya dalam tingkat keberhasialn mereka dalam menguasai bidang tertentu. Dari penelitian-penelitian deengan bermacam-macam test untuk mengukur bakat atau pembawaan IQ siswa, maka telah diperoleh hasil bahwa ada korelasi yang tinggi, antara skor test bakat/pembawaan tersebut dengan skor test hasil belajar mereka. Menurut John B. Carrol, pembawaan adalah jumlah waktu yang digunakan oleh siswa untuk menguasai suatu bahan/materi pelajaran. Corrol tidak mendefinisikan bahwa bakat merupakan indeks tingkat penguasaan yang dapat dicapai oleh siswa, tetapi bakat merupakan ukuran kecepatan belajar yaitu sebagai ukuran sejumlah waktu yang diperlukan oleh siswa untuk sampai pada tingkat penguasaan tertentu terhadap suatu bahan atau materi pelajaran dalam kondisi belajar tertentu.
                  Menurut Muhammad Ali asumsi dasar belajar tuntas adalah adanya ide tentang belajar tuntas yang ditopang, sebagai berikut ini:
1. Semua atau hampir semua siswa dapat menguasai apa yang diajarkan kepadanya (apa yang dipelajari) bila pengajaran dilaksanakan secara sistematis.
2.   Tinggkat keberhasilan siswa di sekolah di tentukan oleh kemampuan bawaan atau bakat yang dimiliki masing-masing.
       
                  Menurut para ahli yang telah meneliti tentang belajar tuntas (mastery learning) di antaranya: Carleton Washburne pada tahun 1922, Morrison tahun 1926, Skinner tahun 1954, Goodlad and Anderson tahun 1959, Corroll tahun 1963, Brunner tahun 1966, Suppes tahun 1966, Glaser tahun 1968, Bloom tahun 1968. James H. Block pada tahun 1971. Mengatakan bahwa bagaimana perbedaan-perbedaan individual yang terdapat diantara  siswa di hubungkan dengan keberhasilan ban proses pengajaran yang harus dilaksanakan oleh guru. Apa yang diteliti oleh para ahli itu benar-benar menyentuh jantung proses belajar mengajar yang menjadi bidang keahlian seorang guru.
                  Hal-hal yang perlu diperhatikan yang merupakan variabel yang menentukan bagi belajar tuntas:
1. Bakat
                 Setiap anak merupakan individu yang sedang berkembang dan mempunyai bakat, minat dan tarap/kecepatan berkembang, yang berbeda satu dengan lainnya. Tidak ada dua anak persis sama di ciptakan oleh Allah S.W.T. Demikianlah kebesaran dan kekuasaan-Nya yang patut kita agungkan. Anda tentu mengenal istilah perbedaan-perbedaan individual. Dalam hubungan ini siswa yang berbakat pada suatu bidang pengajaran akan memperoleh hasil belajar yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ada hubungan yang erat antara bakat dengan hasil belajar. Artinya siswa yang berbakat dapat menguasai bahan pelajaran yang dari suatu bidang pengajaran lebih mudah dan lebih cepat dari mereka yamg tidak berbakat dalam bidang tersebut.
                 Apabila diberikan cukup waktu kepada semua siswa, mereka akan mencapai penguasaan semua tugas pelajaran yang diberikan. Artinya semua bahan pelajaran dapat dikuasai siswa bila kita menemukan metode penyajian yang tepat yang memudahkan siswa menyerapnya. Demikianlah pendapat seorang ahli bernama Carroll (1963) yang kemudian disokong oleh penelitian Atkinson (1967) dan Glasser (1968).
                 Bloom (1968) salah seorang tokoh Mastery learning mengemukakan: Penguasaan bahan pelajaran dapat dicapai sangat baik, asalkan kepada mereka diberikan cukup waktu belajar dan bantuan yang tepat. Jadi masalahnya kini adalah masalah waktu.
          
2. Kualitas pengajaran
                 Kualitas pengajaran turut menentukan berhasil tidaknya pengunaan belajar tuntas ini. Kualitas pengajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan dan pengaturan tugas-tugas sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa menyerapnya baik secara individual maupun secara klasikal.
                 Yang menjadi inti persoalan dalam hubungan kualitas pengajaran ini adalah mengembangkan metode-metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhasn dan karangteristik siswa secara indicidual sehingga dapat menghasilkan tingkat penguasaan bahan yang hampir pada semua siswa yang berbeda-beda bakatnya.
       
3. Kesanggupan untuk Memahami Pengajaran
                 Kemampuan menyerap pelajaran sangat berhubungan dengan kemampuan siswa mengerti bahasa lisan dan tulisan. Dalam hubungan ini guru harus mengetahui sampai di mana kemampuan bahasa para siswanya, sehingga guru dapat menyelesaikan bahasan dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh siswa. dengan kata lain guru harus bertitik tolak pada kebutuhan siswa yaitu pengajaran diberikan sesuai dengan kemampuan siswa.
       
4. Ketekunan
                 Yang dimaksud dengan ketekunan disini adalah waktu yang diinginkan oleh siswa untuk menguasai suatu bahan pelajaran. Artinya, andaikata siswa memerlukan sejumlah waktu untuk mempelajari suatu bahan pelajaran tetapi ia hanya mendapat waktu yang jumlahnya kurang dari yang dibutuhkannya, maka tingkat penguasaan bahan tidak akan mencapai harapan.
                 Ketekunan itu sendiri ada hubunganya dengan sikap dan minat belajar, sikap dan minat belajar menjadi meningkat apabila hasil belajar tidak baik dan siswa mengalami frustasi. Dalam hal ini ketekunan siswapun berkurang (menyusut).
       
5. Kesempatan (waktu) untuk belajar
                 Waktu untuk mempelajari suatu mata pelajaran dalam suatu sistem persekolahan sudah ditentukan dalam kurikulum sesuai dengan bobot yang diberikan kepada mata pelajaran itu. Dengan memperhatikan kebutuhan waktu belajar para siswa dengan bertahap-tahap perkembangan kejiwaan siswa.
                 Namun begitu perbedaan individual perlu mendapatkan perhataian karena ada siswa yang berlebihan waktunya dan ada yang merasa cukup, tetapi ada pula siswa yang merasa kekurangan waktu. Di   sini peranan metode yang digunakan guru sangat besar dan peranan keahlian guru dalam pemecahan masalah ini sangat menentukan.
                        
c. Penerapan Belajar Tuntas Dalam Proses Belajar Mengajar
                      Strategi Belajar Tuntas Menurut Bloom (1968)
1. Langkah persiapan
a.   Fahamilah konsep Belajar tuntas dengan baik dan  mempersiapkan hal-hal yang perlu mendapat perhatian.
b.   Rumuskan tujuan secara spesifik dan jelas.
c.   Tentukan prosedur mengevaluasi yaitu untuk mengetahui sejauh mana tujuan tercapai.
d.   Tentukan materi pelajarn dengan urutan yang tepat.
e.   Tentukanlah kegiatan belajar yang relevan (sesuai). Hal ini menyangkut upaya membuat/mempersiapkan nsiswa agar aktif belajar.
f.    Motivasi yang utama, yang perlu dikembangkan dalam diri siswa adalah pencapaian hasil yang setinggi-tingginya. Setiap siswa dinilai berdasarkan prestasi penguasaan bahan secara individual.
       
2.   Prosedur (langkah-langkah) operasional
a.   Guru dan siswa perlu mendapat informasi tentang efektivitas proses belajar mengajar dalam Belajar Tuntas serta adanya pengajaran perbaikan (instructional Correctives) bila diperlukan.
b.   Untuk menjamin tingkat penguasaan bahan-bahan pelajaran yang tinggi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya maka perlu diperhatikan dan ditingkatkan secara terus menerus hal-hal berikut:
a.   Kualitas pengajaran
b.   Kemampuan siswa menyerap bahan pelajaran yang sangat tergantung pada metode pengajaran yang tepat, yang ditinjau dari kepentingan siswa.
c.   Perincian bahan pelajaran secara sistematis sangatlah penting untuk menentukan satuan-satuan pelajaran yang merupakan suatu konsep atau prinsip.
d.   Untuk mengetahui penguasaan bahan pelajaran perlu disusun suatu test yang disebut diagnostic progress test yang disebut juga dengan test formatif. atest ini lebih menekankan fungsi diagnostiknya melalui informasi tentang tingkat penguasaan siswa dalam unit-unit pelajaran. Manfaat test formatif ini adalah sebagai umpan balik bagi kegiatan belajar mengajar dan sebagai alat untuk mengontrol kualitas pengajaran. dengan test formatif ini, siswa dapat dorongan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu guru dapat mengetahui apayang dibutuhkan siswa dan guru memberikan saran-saran untuk bekerja sama dalam bentuk kelompok kecil.
e.   Hasil belajar
 1. Kognitif Hasil belajar belajar kognitif dengan mengunakan mastery learning ternyata sangat baik terutama dengan menggunakan test formatif untuk mengadakan langkah-langkah yang bersifat korektif.
2.   Konsekwensi afektif
Dengan menggunakan mastery learning, konsekwensi afektif adalah:
a.   Minat terhadap bidang pengajaran meningkat.
b.   Sikap siswa dalam kegiatan belajar mengajar menjadi lebih positif
c.   Perasaan percaya pada kemampuan diri sendiri.
d. Kesehatan mental yang sangat penting untuk perkembangan pribadi siswa meningkat.             
                  Jadi proses belajar mengajaryang menganut teori-teori tersebut tidak evektif dan efisien. Senada dengan teori-teori konvensional di atas adalah anggapan-anggapan dasar yang menyatakan bahwa IQ (intelligensiquotient) atau tingkat kecerdasan alamiah siswa menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain siswa memiliki IQ tinggi, tingkat keberhasilan tinggi juga, sebaliknya siswa yang memiliki IQ rendah, tingkat keberhasilan juga rendah, jadi dengan demikian siswa-siswa yang IQ-nya rendah? apakah mereka di biarkan tetap tidak berhasil atau gagal dalam proses belajar mereka ?.

Sehubungan dengan masalah pendidikan di Indonesia, terdapat empat masalah pokok secara umum yaitu :
           1) Masalah yang berhubungan dengan pemerataan pendidikan.
           2) Masalah yang berhubungan dengan relevansi pendidikan.
           3) Masalah yang berhubungan dengan kualitas pendidikan.
           4) Masalah yang berhubungan dengan efisiensi pedidikan.
       
 Teori Belajar Tuntas (master-learning) merupakan salah satu inovasi pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi serta usaha belajar siswa guna mencapai tingkat tuntas (mastery). Berlaku bagi siswa, baik yang IQ-nya tinggi maupun yang rendah .
Implikasi dari belajar tuntas perlu di laksanakan program pengayaan bagi siswa-siswa yang cepat (sudah mastery) dan program kegiatan pembagian bagi siswa-siswa yang lambat (belum mastery), atau yang mengalami kesulitan maupun yang mengalami kegagalan dalam belajar.
       
           a. Pengertian Belajar Tuntas
Belajar tuntas (master learning) adalah suatu belajar yang mengharapkan siswa dapat menguasai tujuan intruksionalumum (Basic Learning Obyektives) dari suatu satuan atau unit belajar tuntas.
Sedang menurut Muhammad Ali  dalam bukunya "Guru Dalam Proses Belajar Mengajar", mengatakan : Belajar Tuntas dapat di artikansebagian penguasaan (hasil belajar ) siswa secara penuh terhadap bahan yang di pelajari.
Dengan belajar tuntas proses belajar siswa lebih di arahkan, minat belajar siswa ditingkatkan, sikap yang positif terhadap belajar dan bahan yang di pelajari lebih di tingkatkan dan di kembangkan. Dengan demikian perubahan tingkah laku yang diharapkan pada setiap siswa akan berhasil secara optimal.
 Pada pokoknya dengan mastery learning (belajar tuntas) ini, siswa harus mencapai tingkat penguasaan tertentu terhadap tujuan-tujuan intruksional dari satuan/unit pelajaran tertentu sebelum pindah ke satuan/unit pelajaran berikutnya.
 Beberapa presentase tingkat penguasaan tertentu itu tergantung pada beberapa faktor :yaitu diantaranya adalah jenis satuan/unit pelajaran, tingkat pelajaran, jenis mata pelajaran. Hal ini sesuai dengan pedapat Iscak SW. dan Sarwaji R. yang mengatakan : Tingkatan penguasaan tertentu tergantung beberapa faktor:
       
           1) Jenis satuan/unit pelajaran
Mata pelajaran tentrang rumus-rumus, menuntut penguasaan yang berbeda dengan pada mata pelajaran tentang penggunaan atau pengetrapan rumus-rumus.

          

2) Tingkat pelajaran
Mata pelajaran pada tingkatan permulaan menuntut penguasaan yang berbeda dengan mata pelajaran tingkatan sesudahnya, dan sebagainya.
       
           3) Jenis mata pelajaran
Mata pelajaran yang menyangkut pendidikan agama dan moral pancasila menurut penguasaan yang berbeda dengan mata pelajaran lain. Tujuan utama yang di terapkan belajar tuntas (mastery learning), ialah supaya tujuan instruksio-nal yang hendak di capai dapat di capai secara optimal. yaitu dengan prinsip belajar tuntas, maka proses belajar mengajar menjadi efektif dan efisien,yang dalam pelaksanaannya:
-     Nilai rata-rata dalam satuan kelas dapat ditingkatkan.
-     Jarak antara siswa yang cepat belajar dan lambat belajar semakin pendek.
Sebenarnya para ahli pendidikan telah lama memikirkan tentang bagaimana pelajaran dapat berhasil secara maksimal, yang akhirnya muncullah apa yang di sebut dengan belajar tuntas (mastery -learning). para ahli pedidikan tersebut yang mengemukakan masalah belajar tuntas adalah Carliton Washburne (1982) dan Henry C. Marisson (1926) yaitu:
1)   Belajar tuntas senantiasa dihubungkan dengan tujuan pengajaran atau tujuan instruksional khusus (TIK) yang di capai oleh setiap siswa yang meliputi ranah-ranah tingkah laku seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2)   Pengajaran diorganisasikan menjadi satuan-satuan pengajaran tertentu. Setiap satuan terdiri dari kumpulan materi pengajaran yang diatur secara sistimatis untuk di ajarkan agar mencapai tujuan-tujuan satuan pelajaran tertentu.
3)   Hasil tes di atas digunakan untuk penyempurnaan bahan pengajaran dan memperbaiki cara belajar dan mengajar agar di harapkan dapat tercapai, dalam bentuk pengajaran kembali, tutorial, dan lain-lain perbaikan cara belajar ini disebut cocretive learning, waktu yang di sediakan untuk ini di tentukan oleh guru tapi dapat juga ditentukan oleh siswa sendiri.
Sejak munculnya gagasan Belajar tuntas (mastery learning) ini tahun 1922, baru hangat kembali di bicarakan pada tahun 1963 di Amerika oleh john carrol yang mengemukakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan siswa di sekolah dan adanya interaksi antara faktor-faktor yang berpe-ngaruh tersebut. Faktor tesebut adalah :
                  - Bakat
                  - Ketekunan
                  - Kualitas pengajaran
                  - Kesanggupan menangkap pelajaran
                  - Kesempatan yang tersedia untuk belajar.
Adanya interaksi kelima faktor-faktor dapat dijelaskan sebagai mana berikut ini: Apabila sisiwa diberi kesempatan yang sama, maka mereka menggunakan waktu yang dibutuhkannya utnuk belajar dan ia menggunakan dengan sebaik-baiknay, maka ia akan mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Tetapi sebaliknya bila waktu yang dibutuhkannya tidak diperolehnya, maka tingkat hasil belajarnya tergantung pada ratio atau perbandingan waktu yang sesungguhnya di butuhkanya.
       
                  Waktu yang dibutuhkan sisiwa ditentukan oleh:
                  - Bakat
                  - Kualitas pengajaran
                  - Kemampuan untuk mengerti pelajaran
       
Sebagai mana dijelaskan di atas bahwa tujuan utama daripada belajar tuntas adalah meningkatkan efesien belajar, minat belajar dan sikap siswa yang positif terhadap kesatuan kelas. Dari tujuan tersebut jalaslah bahwa belajar tuntas mengutamakan keberhasilan siswa dalam belajar. Untuk ini bukan metode belajar siswa yang menjadi perhatian siswa, tetapi metode mengajar gurupun mendapatkan perhataian sepenuhnya. Metode guru bukan dalam arti sempit, akan tetapi dalam arti yangluas yaitu menyangkut semua pengetahuan guru yang berhubungan dengan keberhasilan dalam mengajar. Guru harus merumuskan tujuan yang jelas dan tepat.
               Dengan tujuan yang jelas, guru mudah menentukan:
           1. Materi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
           2. Kegiatan belajar yang bagaimana yang diperlukaN.
           3. metode apa yang cocok yang akan digunakan.
           4. Alat dan sumber yang diperlukan.
           5. Bentuk dan soal-soal (evaluasi) yang bagaimana yang diperlukan.
Belajar tuntas menuntut kemampuan guru menyusun urutan materi yang tepat yang akan memudahkan bagi setiap siswa menyerap bahan tersebut. Belajar tuntas mengharapkan semua siswa dapat mencapai hasil yang setinggi-tingginya dengan memperhatikan dengan cermat strategi yang digunakan dan komponen-komponen yang menunjang keberhasilan yang ditargetkan.

b.  Prinsip ilmiah yang mendasar belajar tuntas
Ada beberapa asumsi atau anggapan dasar yang erat kaitanya dan yang mendasari konsep serta teori belajar tuntas (mastery learning) antara lain teori-teori konvensional, pendapat-pendapat dari John B. Carrol, Benyamin S. Bloom dan James H. Block.
Berdasarkan teori-teori konvensional yang sampai sekarang masih berpengaruh pada pelaksanaan proses belajar mengajar, khususnya di Indonesia yaitu taori-teori yang pada pokoknya menitik beratkan pada teori bakat atau pembawaan atau IQ siswa dalam hubunganya dalam tingkat keberhasialn mereka dalam menguasai bidang tertentu. Dari penelitian-penelitian deengan bermacam-macam test untuk mengukur bakat atau pembawaan IQ siswa, maka telah diperoleh hasil bahwa ada korelasi yang tinggi, antara skor test bakat/pembawaan tersebut dengan skor test hasil belajar mereka. Menurut John B. Carrol, pembawaan adalah jumlah waktu yang digunakan oleh siswa untuk menguasai suatu bahan/materi pelajaran. Corrol tidak mendefinisikan bahwa bakat merupakan indeks tingkat penguasaan yang dapat dicapai oleh siswa, tetapi bakat merupakan ukuran kecepatan belajar yaitu sebagai ukuran sejumlah waktu yang diperlukan oleh siswa untuk sampai pada tingkat penguasaan tertentu terhadap suatu bahan atau materi pelajaran dalam kondisi belajar tertentu.
Menurut Muhammad Ali asumsi dasar belajar tuntas adalah adanya ide tentang belajar tuntas yang ditopang, sebagai berikut ini:
1.   Semua atau hampir semua siswa dapat menguasai apa yang diajarkan kepadanya (apa yang dipelajari) bila pengajaran dilaksanakan secara sistematis.
2.  Tinggkat keberhasilan siswa di sekolah di tentukan oleh kemampuan bawaan atau bakat yang dimiliki masing-masing.
       
                  Menurut para ahli yang telah meneliti tentang belajar tuntas (mastery learning) di antaranya: Carleton Washburne pada tahun 1922, Morrison tahun 1926, Skinner tahun 1954, Goodlad and Anderson tahun 1959, Corroll tahun 1963, Brunner tahun 1966, Suppes tahun 1966, Glaser tahun 1968, Bloom tahun 1968. James H. Block pada tahun 1971. Mengatakan bahwa bagaimana perbedaan-perbedaan individual yang terdapat diantara  siswa di hubungkan dengan keberhasilan ban proses pengajaran yang harus dilaksanakan oleh guru. Apa yang diteliti oleh para ahli itu benar-benar menyentuh jantung proses belajar mengajar yang menjadi bidang keahlian seorang guru.
                  Hal-hal yang perlu diperhatikan yang merupakan variabel yang menentukan bagi belajar tuntas:
1.  Bakat
Setiap anak merupakan individu yang sedang berkembang dan mempunyai bakat, minat dan tarap/kecepatan berkembang, yang berbeda satu dengan lainnya. Tidak ada dua anak persis sama di ciptakan oleh Allah S.W.T. Demikianlah kebesaran dan kekuasaan-Nya yang patut kita agungkan. Anda tentu mengenal istilah perbedaan-perbedaan individual. Dalam hubungan ini siswa yang berbakat pada suatu bidang pengajaran akan memperoleh hasil belajar yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ada hubungan yang erat antara bakat dengan hasil belajar. Artinya siswa yang berbakat dapat menguasai bahan pelajaran yang dari suatu bidang pengajaran lebih mudah dan lebih cepat dari mereka yamg tidak berbakat dalam bidang tersebut.
Apabila diberikan cukup waktu kepada semua siswa, mereka akan mencapai penguasaan semua tugas pelajaran yang diberikan. Artinya semua bahan pelajaran dapat dikuasai siswa bila kita menemukan metode penyajian yang tepat yang memudahkan siswa menyerapnya. Demikianlah pendapat seorang ahli bernama Carroll (1963) yang kemudian disokong oleh penelitian Atkinson (1967) dan Glasser (1968).
Bloom (1968) salah seorang tokoh Mastery learning mengemukakan: Penguasaan bahan pelajaran dapat dicapai sangat baik, asalkan kepada mereka diberikan cukup waktu belajar dan bantuan yang tepat. Jadi masalahnya kini adalah masalah waktu.
          
2.  Kualitas pengajaran
Kualitas pengajaran turut menentukan berhasil tidaknya pengunaan belajar tuntas ini. Kualitas pengajaran ditentukan oleh kualitas penyajian, penjelasan dan pengaturan tugas-tugas sedemikian rupa sehingga memudahkan siswa menyerapnya baik secara individual maupun secara klasikal.
Yang menjadi inti persoalan dalam hubungan kualitas pengajaran ini adalah mengembangkan metode-metode mengajar yang sesuai dengan kebutuhasn dan karangteristik siswa secara indicidual sehingga dapat menghasilkan tingkat penguasaan bahan yang hampir pada semua siswa yang berbeda-beda bakatnya.
       
3.   Kesanggupan untuk Memahami Pengajaran
Kemampuan menyerap pelajaran sangat berhubungan dengan kemampuan siswa mengerti bahasa lisan dan tulisan. Dalam hubungan ini guru harus mengetahui sampai di mana kemampuan bahasa para siswanya, sehingga guru dapat menyelesaikan bahasan dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh siswa. dengan kata lain guru harus bertitik tolak pada kebutuhan siswa yaitu pengajaran diberikan sesuai dengan kemampuan siswa.
       
4.   Ketekunan
Yang dimaksud dengan ketekunan disini adalah waktu yang diinginkan oleh siswa untuk menguasai suatu bahan pelajaran. Artinya, andaikata siswa memerlukan sejumlah waktu untuk mempelajari suatu bahan pelajaran tetapi ia hanya mendapat waktu yang jumlahnya kurang dari yang dibutuhkannya, maka tingkat penguasaan bahan tidak akan mencapai harapan.
Ketekunan itu sendiri ada hubunganya dengan sikap dan minat belajar, sikap dan minat belajar menjadi meningkat apabila hasil belajar tidak baik dan siswa mengalami frustasi. Dalam hal ini ketekunan siswapun berkurang (menyusut).
       
5.  Kesempatan (waktu) untuk belajar
Waktu untuk mempelajari suatu mata pelajaran dalam suatu sistem persekolahan sudah ditentukan dalam kurikulum sesuai dengan bobot yang diberikan kepada mata pelajaran itu. Dengan memperhatikan kebutuhan waktu belajar para siswa dengan bertahap-tahap perkembangan kejiwaan siswa.
Namun begitu perbedaan individual perlu mendapatkan perhataian karena ada siswa yang berlebihan waktunya dan ada yang merasa cukup, tetapi ada pula siswa yang merasa kekurangan waktu. Di   sini peranan metode yang digunakan guru sangat besar dan peranan keahlian guru dalam pemecahan masalah ini sangat menentukan.

c. Penerapan Belajar Tuntas Dalam Proses Belajar Mengajar
Strategi Belajar Tuntas Menurut Bloom (1968)
1. Langkah persiapan
a.   Fahamilah konsep Belajar tuntas dengan baik dan  mempersiapkan hal-hal yang perlu mendapat perhatian.
b.   Rumuskan tujuan secara spesifik dan jelas.
c.   Tentukan prosedur mengevaluasi yaitu untuk mengetahui sejauh mana tujuan tercapai.
d.   Tentukan materi pelajarn dengan urutan yang tepat.
e.   Tentukanlah kegiatan belajar yang relevan (sesuai). Hal ini menyangkut upaya membuat/mempersiapkan nsiswa agar aktif belajar.
f.    Motivasi yang utama, yang perlu dikembangkan dalam diri siswa adalah pencapaian hasil yang setinggi-tingginya. Setiap siswa dinilai berdasarkan prestasi penguasaan bahan secara individual.
       
2. Prosedur (langkah-langkah) operasional
a.   Guru dan siswa perlu mendapat informasi tentang efektivitas proses belajar mengajar dalam Belajar Tuntas serta adanya pengajaran perbaikan (instructional Correctives) bila diperlukan.
b.   Untuk menjamin tingkat penguasaan bahan-bahan pelajaran yang tinggi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya maka perlu diperhatikan dan ditingkatkan secara terus menerus hal-hal berikut:
a.   Kualitas pengajaran
b.   Kemampuan siswa menyerap bahan pelajaran yang sangat tergantung pada metode pengajaran yang tepat, yang ditinjau dari kepentingan siswa.
c.   Perincian bahan pelajaran secara sistematis sangatlah penting untuk menentukan satuan-satuan pelajaran yang merupakan suatu konsep atau prinsip.
d.   Untuk mengetahui penguasaan bahan pelajaran perlu disusun suatu test yang disebut diagnostic progress test yang disebut juga dengan test formatif. atest ini lebih menekankan fungsi diagnostiknya melalui informasi tentang tingkat penguasaan siswa dalam unit-unit pelajaran. Manfaat test formatif ini adalah sebagai umpan balik bagi kegiatan belajar mengajar dan sebagai alat untuk mengontrol kualitas pengajaran. dengan test formatif ini, siswa dapat dorongan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan itu guru dapat mengetahui apayang dibutuhkan siswa dan guru memberikan saran-saran untuk bekerja sama dalam bentuk kelompok kecil.
e.   Hasil belajar
1.   Kognitif Hasil belajar belajar kognitif dengan mengunakan mastery learning ternyata sangat baik terutama dengan menggunakan test formatif untuk mengadakan langkah-langkah yang bersifat korektif.
2.   Konsekwensi afektif
Dengan menggunakan mastery learning, konsekwensi afektif adalah:
a.   Minat terhadap bidang pengajaran meningkat.
b.   Sikap siswa dalam kegiatan belajar mengajar menjadi lebih positif
c.   Perasaan percaya pada kemampuan diri sendiri.
d.   Kesehatan mental yang sangat penting untuk perkembangan pribadi siswa meningkat.             

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar