KELUARGA BESAR PONPES. ITTIHAAD AL-UMAM EGOK MENGUCAPKAN SELAMAT MENGIKUTI UJIAN NASIONAL ( UN ) TANGGAL 14 S/D 16 APRIL 2014 KEPADA SISWA/SISWI MA. ITTIHAAD AL-UMAM EGOK. "SEMOGA MEMPEROLEH KELULUSAN DENGAN NILAI YANG TERBAIK". AMIIIIIN. ADMIN: SABLY EL-ITTIHAD EGOK HP. 081 917 335 600

SILAHKAN KLIK DAFTAR LABEL DI BAWAH INI UNTUK BISA MELIHAT ISI POSTING SELENGKAPNYA TERIMA KASIH

Jumat, 17 Agustus 2012

ABITUREN (Sably El-Ittihad Egok) 5

Usul 1 :
Dimanakah tempat na’jisnya anjing yang sebenarnya sedangkan kalau kita berada didalam air kita tidak kena na’jis, demikian sebaliknya kalau sama-sama kering tidak kena na’jis, mohon penjelasan !
Jawab :
Anjing itu semuanya na’jis dan na’jis itu tidak dapat berdiri dengan sendirinya, ia berdiri pada zat, dengan demikian na’jis itu tetap ada pada zat / ain anjing walaupun anjing itu berada di darat maupun di air.
Orang yang menyentuh anjing didalam air ia tidak terkena na’jis asalkan air itu tidak kurang dari dua kolam(     ), air itu menjadi perantara / dinding diantara anjing dan orang yang menyentuh. Tetapi bila seseorang memegang anjing dengan secara keras dan kira-kira tidak akan terdapt dinding diantara keduanya, maka orang yang memegang anjing itu terkena na’jis, demikian pula kalau keadaannya air itu kurang dari dua kolam (   ) dan kita memegang atau menyentuh maka kita tetap terkena na’jis sekalipun kita memegangnya secara keras atau tidak.

Pada masalah anjing tersebut ada beberapa Imam yang berpendapat diantaranya:
1.      Imam Syafi’i, Ibnu Hanbal dan Imam Abu Hanipah ketiganya mempunyai pendapat yang sama yaitu; ain dan sifat anjing itu semuanya na’jis yang tak dapat dipisahkan diantara zat dan sifatnya.
2.      Pendapat Imam Maliki; beliau mengatakan anjing itu adalah suci tetapi bekas jilatannya wajib dibasuh tujuh kali basuhan salah satu diantaranya dengan tanah sebagaimana pendapat Aimmatisstalastah.
Basuhan tersebut bukan karena na’jis tetapi karena taabbud atau menjunjung tinggi perintah yang tidak diketahui hikmatnya (    ).
Adapun kalau ditinjau dari segi sifatnya anjing itu na’jis, disebabkan sekira kalau bekas atau sisa sesuatu yang telah dimakan oleh anjing kemudian dimakan oleh manusia, maka hatinya akan menjadi beku dengan arti sukarlah baginya menerima petunjuk-petunjuk dan mengerjakan barang yang baik, hal ini telah dilakukan oleh orang yang berhazhab Maliki, seperti ia meminum susu yang telah diminum oleh anjing (bekas anjing), maka dengan sebab meminumnya itu hatinya menjadi beku dan sukar baginya mengerjakan kebaikan-kebaikan selama sembilan bulan. Oleh karena itu wajib dijauhi sebagaimana menjauhi bisanya ular yang dapat memudaratkan badan, minbabi aula yang merusak pada Agama. Sesuatu yang dapat memudaratkan pada Agama disebut na’jis sebagaimana Allah menyebut akan orang-orang musyrik adalah na’jis.
Demikian dari Mizan Assya’rani juzu’ I halaman 103. Pada kitab Bujairimi juzu’ tsb diatas halaman 286 Imam Ibnu Hajar Al-Khaitamy pernah ditanya tentang hitmatnya anjing itu dina’jiskan, dengan pertanyaan sebagai berikut; Apakah hikamatnya anjing itu na’jis mena’jiskan ?
Kemudian Ibnu Hajar menjawab; Hikmat anjing itu dina’jiskan agar supaya kita menjauhinya (    ) dari adat keburukan-keburukan orang-orang jahiliyah dan orang-orang barat seperti memakan, mencintai (menjinakkan) dan mempergaulu anjing.
Penjelasan:
Hikmatnya kita diperintah memakai tanah pada bekas jilatan anjing karena dengan tanah tersebut kuman-kuman (jursum) yang halus yang terdapat padanya akan bisa hilang dan barang pencuci lainnya kuman-kuman halus tersebut tidak bisa hilang kecuali dengan tanah.
Dengan ini ternyata na’jis anjing termasuk na’jis mugallasah karena itu perlu dibersihkan dengan dua macam bahan pencuci yaitu tanah dan air.
Na’jis mukhappapah dapat digambarkan sebagai pohon kayu yang sedang layu, akan hidup subur setelah disiram dengan air.
Na’jis mugallazah dapat pula digambarkan sebagai pohon kayu yang sedang layu, akar-akarnya banyak kelihatan dipermukaan bumi, tidak dapat hidup sehat / tumbuh subur melainkan dengan akar-akarnya itu ditimbun/ditutup dengan air. Maka dengan ini dapatlah kita ketahui menurut pendapat Mazhab Syafi’i bahwa tetap sekali bila air tidak ada untuk bersuci harus diganti dengan tanah (tayammum) dan tidak boleh diganti dengan benda lain, karena dengan kedua macam benda ini sesuatu yang kotor menjadi bersih dan suci. Demikian pula dengan kedua macam benda ini tanaman yang akan mati menjadi hidup dengan keadaan subur, inilah salah satu hikmat yang dikutip pada Mizan Assya’roni muka 106 juzu’ I.
Usul 2 :
Di Kampung kami ada sebuah Masjid yang dipindah tempatnya, kemudian pada tempat bangunan Masjid itu apakah boleh boleh kita mengembala atau kita jadikan kebun biasa ?
Jawab :
Usul 2 :
Mohon penjelasan terhadap orang yang mampu untuk mengerjakan Hajji tetapi ia tidak mau mengerjakannya karena sesuatu hal seperti:
-          Punya uang secukupnya untuk ibadah Haji tetapi uangnya itu digunakan untuk membangun Masjid. Maka orang itu apakah tidak berdosa serta tidakkah ia dituntut dengan hukum wajib ?
-          Punya uang banyak tetapi ia tidak mau mengerjakan Ibadah Haji karena ia takut meninggalkan orang tuanya, ia menyangka orang tuanya akan meninggal dunia setelah ia berangkat, dan tidak ada orang yang akan mengurusnya (katanya). Kemudian orang tersebut meninggal terlebih dahulu dari orang tuanya, maka hal seperti itu apakah bisa dijadikan alasan serta bagaimanakah hukumnya terhadap orang tersebut ?
Jawab :
Haji termasuk ibadah badaniyah maliyah yang boleh diganti / dikerjakan oleh orang lain dengan mencukupi segala syarat-syaratnya. Firman Allh SWT.

Menurut ayat ini bahwa Haji itu wajib dikerjakan atas orang yang kuasa / mampu. Adapun orang yang dikatakan mampu menurut penjelasan dari Imam Ibnu Abbas yang terdapat pada Ianah juzu’ II halaman 281 ialah :
-          Ada bekal
-          Ada kendaraan
-          Badan sehat
-          Keadaan jalan aman
Selanjutnya penjelasan dari Ianah diatas, bahwa kemampuan itu dibagi menjadi dua bagian.
Bagian pertama : Yaitu mampu badan mampu harta, dan bagian pertama ini mempunyai 11 (sebelas) syarat diantaranya:
1.      Ada biaya musapir pulang pergi
2.      Ada kendaraan
3.      Keadaan jalan aman
4.      Ditengah perjalanan ada air dan makanan yang dijual dengan harga misil setempat.
5.      Bagi wanita yang berjalan bersama suami atau muhrim
6.      Diatas tunggangan / kendaraan tidak ada masakkah
7.      Keadaan bekal harus tetap ada dan beserta lain-lainnya pada waktu keluarnya orang berhaji dari negerinya
8.      Ada waktu untuk bisa sampai ke Makkah dengan tidak tergesa-gesa
9.      Ada orang yang menemani ia berjalan kalau sekiranya ia berjalan tidak mendapat keamanan
10.  Biaya tersebut diatas diperoleh / didpat dari harta miliknya sendiri bukan karena hutang
11.  Bagi orang buta harus ada penuntunnya ketika turun / naik dari kendaraan walaupun dengan memakai ongkos yang sepantasnya.
Bagian kedua : mampu harta tapi tidak mampu badan seperti orang yang lumpuh (   ).
Syarar-syaratnya:
1.      Sakitnya itu tidak ada harapan untuk sembuh
2.      Ada ongkos yang sepantasnya untuk dihajikan selain dari harta yang dibutuhkan oleh si ma’dub dan beserta tanggungannya.
Bilamana tersebut diatas telah cukup, maka wajiblah atasnya mengerjakan Haji dan bilamana belum mencukupi syarat maka Haji itu tidak wajib dikerjakan. Kemudian sesuai dengan usul disini bagi orang-orang yang telah mampu serta mencukupi syarat-syarat sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu, orang tersebut sudah terkena dengan tuntutan wajib Haji, sedangkan membangun Masjid adalah sunnat. Dengan demikian sebaliknya uang itudipakai terlebih dahulu untuk menunaikan ibadah Haji walaupun Haji itu wajibnya (    ) penjelasan dari ibarat Majmu’ pada halaman 102 juzu’ 7 dijelaskan sebagai berikut: Bagi orang yang telah wajib Haji disunatkan mendahulukan Haji daripada yang lain-lainnya,

Adapun bagi orang yang telah mampu dan mencukupi syarat-syarat kemudian beralasan karena takut meninggalkan orang tuanya, tetap dituntut dengan wajib Haji, sebab Ibadah Haji itu tidak bisa terhalang dengan sebab alasan demikian. Kalau ia meninggal dunia sebelum wajib haji, maka wajib dihajikan oleh warisnya atau orang lain yang diambil biayanya dari harta peninggalannya jika ia mempunyai harta peninggalan, tetapi kalau harta peninggalannya tidak ada kewajiban / keberatannya itu tetap bergantung pada batang lehernya dan bagi ahli waris tidal lazim menghajikannya tetapi sunnat. Bila ahli waris menghajikannya, maka gugurlah kewajibannya, sama ada orang tersebut berwasiat atau tidak.
Demikian penjelasan yang dikutup dari Majmu’ halaman 110 juzu’ 7 dan ibaratnya berbunyi sebagai berikut:

Usul 3 :
Pada akad perkawinan yang khususnya di daerah Lombok sebagian besar biasanya memakai bahsa sasak misalnya seperti: Aku nikah ante Pulan dengan anakku si Pulin, pada kata nikah tidak ada akhiran kan. Menurut sebahagian pendapat ada yang tidak mengesahkan. Mohon penjelasan !
Jawab :

Kita telah maklum bahwa sahnya suatu akad perkawinan yaitu dengan ada ijab dan kabul seperti contoh; perkataan wali (     ) atau (    ) kemudian perkataan dari mempelai laki (     ) atau (    ) atau (    ) atau (   ), kata-kata nikah disini maknanya adalah inkah; oleh sebab itu kita dapat mengerti bahwa nikah itu dapat diartikan dengan inkah. Sehubungan dengan usul diatas maka suatu akad perkawinan yang tidak memakai akhiran kan pada kata nikah tersebut, perkawinannya tetap sah, kemudian dalam bahasa sasak tidak memerlukan akhiran kan.

Usul 5 :
Mohon penjelasan, bagaimana hukum menyanyikan / melagukan azan sebagaimana sering didengar di Radio atau tempat-tempat lainnya dengan irama lagu yang merdu, dan kalau menjawabnya bagaimanakah hukumnya ?
Jawab :
Azan ialah suatu pemberitahuan sebagai tanda masuknya waktu shalat (   ) dan sebahagian daripada ibadat yang diperlukan kekhusyu’an kepada Allah SWT. Kalimat yang paling baik untuk mengajak kejalan Allah ialah dengan firmannya didalam Al-Qur’an :

Kemudian azan yang baik yaitu bacaan-bacaan kalimatnya sesuai dengan makhraj huruf-hurufnya serta harkat atau madnya sesuai pula dengan hukum yang berlaku didalam ilmu tajwid dan bagi orang yang menjadi muazzin harus memeliharanya dengan baik agar jangan sampai menimbulkan lahan atau kesalahan-kesalahan, dengan demikian menurut mazhab Syafi’i didalam penjelasannya bahwa azan itu harus dibaca dengan baik dan searah menjihad lagunya / satu lagu :

Pendapat Imam-Imam pada masalah azan adalah sebagai berikut :
1.      Imam Ahmad Bin Hanbal menjelaskan; melagukan azan itu adalah makruh.
2.      Imam Hanafi menjelaskan; melagukan azan itu baik selama tidak merobah kalimat dengan tidak melebihi harkat atau huruf dan lagu yang menimbulkan perobahan makna hukumnya haram.
3.      Imam Maliki menjelaskan; melagukan azan hukumnya makruh karena menghilangkan kehusyu’an dan bila terlalu banyak pariasinya hukumnya haram.

Menjawab azan hukumnya adalah sunnat bagi orang yang mendengarnya selama azan itu tidak terdapat lahan yang sampai merobah makna, sabda Nabi :

Dengan hadits ini kita mendapat pengertian, kalau azan itu dibaca dengan lahan sehingga merobah bentuk kalimat itu adalah tidak benar.
Macam-macam lahan yang merobah makna ; 
1.      Memanjangkan hamzah pada lapaz (     )
2.      Memanjangkan hamzah pada lapaz (   )
3.      Memanjangkan hamzah pada lapaz (    )
4.      Berwakaf pada lapaz (  ) dan memulai dengan (  )
5.      Memanjangkan alip pada lapaz (   ) didepan ha’ (   ), alip pada lapaz (    ) dan (    ) dengan melebihi ukuran mad (Attarmasi juzu’ II hal. 88)
Oleh sebab itu orang yang menjadi muazzin harus memlihara dari kesalahan-kesalahan tersebut agar jangan sampai azan itu menjadi batal. Didalam kitab (   ) dijelaskan sebagai berikut:

Menjawab azan yang dikumandangkan lewat Radio baik dilagukan atau tidak adalah tidak sunnat dijawab karena azan di Radio itu bukan muazzin melainkan kaset, sedangkan kaset itu tidak mempunyai kasad berdasarkan sebuah hadits yang berbunyi :

Perbandingannya : Seperti orang yang membaca ayat sajadah yang timbul bacaan itu dari orang yang sedang tidur atau dari burung siung maka tidak disunatkan sujud tilawatil karena tidak terdapat kasad.
Usul 6 :
Didalam upacara pemakaman jenazah sering kali didengar para penta’ziah memohon kepada para hadirin untuk ikut serta menyaksikan bahwa jenazah almarhum si Pulan umpamanya adalah orang yang baik, yang meragukan saya misalnya saya orang yang ikut menghadiri pemakaman tersebut, namun saya tidak tau apakah almarhum itu orangnya baik atau tidak pertanyaan saya, manakah lebih baik saya diam atau ikut mengatakan baik.
Jawab :
Penyaksian terhadap mayat dengan kebaikan dinamakan (    ) sebagaimna hadits yang diriwayatkan oleh Saidina Anas r.a.

Telah lalu oleh orang banyak dengan satu jenazah maka ia memuji dengan baik, kemudian Nabi bersabda (   ) dan setelah itu lipat lagi dengan satu jenazah yang lain, maka ia memuji dengan jahat, maka sabda Nabi (   ) kemudian Saidina Umar Bin Khatab bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah yang dimaksud dengan wajabat ?, Rasulullah menjawab; ini jenazah yang pertama engkau katakan orang baik, maka wajiblah atasnya Surga dan ini jenazah yang kedua engkau katakan orang jahat maka wajiblah atasnya Neraka.
Kamu semua (yakni sahabat) orang mu’min menjadi saksi Allah SWT dimuka bumi.
Menurut hadits tersebut diatas, orang yang dikatakan baik ia menjadi baik, dan orang yang dikatakan jahat ia menjadi jahat, maksudnya adalah sebagai tanda yaitu apa yang ada pada hakekatnya / nafsul-amar menurut galibnya, karena orang baik atau ahlilfadli tidak mungkin ia mengatakan / memuji seseorang dengan kebaikan melainkan dengan sebab orang yang dikatakan / disaksikan itu benar-benar orang baik, bukan dimaksudkan orang yang dijadikan isi Surga (berbuat baik) akan menjadi isi Neraka, begitu pula orang yang dijadikan isi neraka (berbuat jahat) akan menjadi isi Surga dengan sebab perkataan / syahadah mereka.
Dengan hadits tersebut para Imam-Imam mengambil pengertian, bahwa orang yang dilalui oleh jenazah ia disunatkan berdo’a dan memuji dengan baik kepadanya jika jenazah itu benar-benar orang baik.
Demikianlah penjelasan didalam kitab Dalilul Palihin juzu’ 6 halaman 97.
Kemudian kalau kita belum menyaksikan sesuatu yang belum kita ketahui maka penyaksian itu tidak benar dan dinamakan (    ), firman Allah (     ) artinya; jangan kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu mengetahuinya. Oleh karena itu orang yang menghantar jenazah tidak ada salahnya menyaksikan terhadap orang yang baik kalau kita mengetahui bahwa jenazah si Pulan umpamanya orang yang baik dan menyaksikan jenazah yang belum kita ketahui apakah ia orang baik tau tidak kemudian penta’ziah mengatakan baik, maka kita yang mendengar bukan menjadi saksi tetapi mendengarkan orang yang menjadi saksi.
Usul 7 :
Ada seorang lelaki mempunyai dua istri, dan sis suami telah berjanji dengan si istri yang kedua (setelah akad perkawinan) dengan perjanjian sebagai berikut:
1.      Saya sanggup menyewakan sebuah rumah tempat tinggal.
2.      Saya sanggup memberikan nafkah wajib dengan adil dan merata.
3.      Saya tidak akan menyakiti badan / jasmani istri saya yang kedua.
4.      Bila terjadi perselisihan diantara keduanya kemudian istri saya yang tua memaki yang muda dengan kata-kata yang kotor dan saya harus mencegahnya (istri saya yang tua) memaki demikian.
Bilamana salah satu dari 4 (empat) tersebut diatas dilanggar, maka jatuhkah talaqnya kepada istri yang muda.
Pada suatu hari terjadilah perkelahian antara istri pertama dan kedua dengan ucapan istri pertama ke istri kedua memaki dengan kata-kata diluar batas hukum, bahwa iastri yang muda dianggap seolah-olah sebagai anak dari hasil luar nikah, kemudian si suami tidak mencegah hal tersebut sehingga dalam tanggapan keluarga istri yang muda, bahwa si suami telah melanggar poin yang 4 dari janji tersebut.
Jawab :
Pada ta’liq harus terdapat 4 (empat) macam sesuatu;
1.      Suami yang berta’liq (mualliq)
2.      Thalaq (muallaq)
3.      Sesuatu yang dita’liqkan atasnya …(muallaq alaih)
4.      Ucapan ta’liq (segat)
Menuurt soal diatas, yang menjadi muallaknya ialah bila melanggar salah satu dari 4 (empat) janji tersebut diatas. Dalam hal ini suami yang telah melanggar salah satu janjinya maka jatuhlah talaq satu sebagaimana yang dikehendaki oleh suaminya karena telah terdapat muallaq alaih.
Dalam sebuah hadits telah dinyatakan sebagai berikut;

Orang-orang mu’min itu berada pada syarat mereka. Maksudnya : sesuatu yang telah disyaratkan itu harus diikuti atau diterima.

Pada kitab majmu’ halaman 152 juzu’ 17 dijelaskan sebagai berikut:

Usul 8 :
Dikampung kami telah berdiri satu Jum’at dengan syarat-syaratnya telah cukup menurut mazhab Syafi’i, pada suatu waktu jum’at tersebut kurang syarat karena jamaahnya banyak yang pindah / transmigrasi dan ada juga yang meninggal dunia sehingga jamaahnya jauh kurang dari 40 orang.
a.       Bolehkah kami bertaklid kepada Imam yang lain / yang membolehkan jum’at kurang dari 40 orang ?
b.      Bolehkah kami mengadakan jum’at dengan tanpa taklid kepada Imam yang lain ?
Jawab :
Menurut qaul jadid bilangan jamah jum’at itu harus ada 40 orang dan jika syarat-syaratnya luput seperti kurang bilangan jamaahnya mereka harus mengerjakan zohor.
( BUJAIRIMI, halaman 172 juzu’ II )

ibarat ini maksudnya; Bukanlah sembahyang jum’at itu disembahyangkan / dikerjakan menjadi zohor tetapi jum’at yang asalnya diwajibkan karena mencukupi syarat, bila syaratnya kurang wajibnya hilang dan diganti dengan zohor. Pada semua ibadah apa saja apabila kita mendapat kesulitan / kesukaran kita boleh pindah bertaklid kepada Imam yang lain yang membolehkan, asalkan cara bertaklid itu tepat menurut syarat-syaratnya agar jangan terdapat talfiq, berpegang kepada dua mazhab dalam satu pekerjaan ibadah yang akibatnya kedua mazhab itu sama-sama tidak mengesahkannya.
Misalnya ia bertaklid kepada Imam Hanapi dan berwudhu’ secara Imam Syafi’i maka tidak mengesahkan karena wudhu’nya dinyatakan batal disebabkan karena menyentuh perempuan dewasa yang bukan muhrim. Imam Hanapi tidak mengesahkan pula karena wudhu’nya tidak sah sapuan kepala kurang dari seperempatnya.
Imam Bulkini pernah ditanya pada masalah satu kampung yang kurang jamaahnya dari 40 orang dan pertanyaan mereka sebagai berikut; suatu kampung yang kurang jamaahnya dari 40 orang maka apakah ia mengerjakan jum’at atau zohor ?
Kemudian Imam Bulkini menjawab; mereka bersembahyang zohor menurut pendapat Imam Syafi’i dan boleh mengerjakan jum’at dengan bertaklid kepada Imam yang mengharuskan jum’at kurang dari 40 orang.
Kemudian bila ia mau berihtiyat maka hendaklah ia sembahyang jum’at sampai selesai menurut taklidnya dan mengerjakan zohor menurut Syafi’i, cara seperti inilah cara yang paling baik bagi orang yang berihtiyat. Dan tidak boleh jum’at itu ditambah dua rakaat lagi karena maksud supaya menjadi zohor, akibatnya sembahyang tersebut tidak menjadi jum’at dan tidak pula menjadi zohor.

Pada mazhab Syafi’i terdapat dua qaul yaitu qaul Qadim dan Jadid. Bila terdapt dua qaul dalam satu masalah maka yang dipakai atau yang mu’tamad adalah qaul Jadid. Pada qaul Qadim tersebut bukan semuanya dha’if tetapi adapula yang masih tetap dipiwakan atau masih dipakai banyaknya kurang lebih 14 masalah sebagaimana dijelaskan pada majmu’ halaman 67 juzu’ I dan pada kitab Asybah Wannazoir halaman 540. Qaul Qadim yang tidak boleh dipakai (tetap dhaif) bila tidak diperkuat oleh Ashabussyafi’i yang termasuk dalam golongan ahli tarjih seperti Abu Bakar Ibnul Munzir, Ulama-ulama tersebut mentarjihkannya berdasarkan Nas dan hadits sehingga ia menjadi kuat dan boleh dipakai.
( majmu’ halaman 68 juzu’ I )

abu Bakar Ibnul Munzir pernah ditanya sebagai berikut; bolehkah kita bertaklid atau mengikuti salah satu dari dua qaul Qadimyang membolehkan berjum’at kurang dari 40 orang ?
jawab Abu Bakar Ibnul Munzir; Boleh, yang demikian itu adalah pendapat Syafi’i yang telah ditarjihkan atau diperkuat oleh beberapa Ulama tarjih, dan perkataan dari Imam Assuyuti; kita mengikuti salah satu dari kedua qaul ini adalah lebih baik daripada bertaklid kepada Imam Abu Hanifah, maka waspadalah pada masalah ini, kemudian Imam Sayuti selanjutnya berkata; aku telah menyusun satu kitab (risalah) tentang bolehnya kita berpegang kepada qaul Qadim yang mengharuskan jum’at yang bilangan jamaahnya kurang dari 40 orang sebagai mana tersebut diatas.

Kesimpulan :
Menurut pendapat qaul Qadim ini kalau kita berpegang kepadanya maka mengadakan jum’at yang kurang dari 40 orang dibolehkan dan kita tetap berada pada mazhab Syafi’i tanpa taklid kepada mazhab yang lain. 
Usul 9 :
Bagaimanakah sebenarnya menurut hukum pada masalah nelung, mituk, nyiwak dan nyatus yang sudah menjadi kebiasaan disetiap kampung ?
Jawab :

Maksudnya hadits ini ialah, ada salah seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, menanyakan tentang pahala tasadduk kepada Ibunya yang telah meninggal dunia, bila ia mensedekahkan daripadanya, kemudian Rasulullah menjawab; baginya ada pahala.
Menurut hadits ini bahwa tasadduk itu adalah perbuatan yang baik sebagai suatu keihsanan terhadap orang tua maupun kerabat, keihsanan itu baik dilakukan dimasa hidup maupun setelah mati asalkan yang disadahkan itu bukan milik anak yatim atau mahjur alaih. Berbuat baik terhadap orang tua atau kerabat, Allah menyatakan didalam Al-Qur’an:

Selanjutnya menghadiri dakwah dalam upacara kematian yang mempunyai acara seperti tasadduk anil mayit, tahlilan, zikir dan do’a dilain hari pertama maka yang demikian itu bukan termasuk bid’ah makruh atau yang termasuk dalam ibarat yang berbunyi

Maksudnya ibarat ini adalah menghadiri panggilan keluarganya si mayat pada hari pertama setelah penguburan, kemudian mereka berkumpul untuk memberikan ta’ziyzh, hal ini dihukum bid’ah makruh, disebabkan pada hari pertama itu adalah hari yang penuh dengan duka cita oleh ahli yang ditinggalkan berdasarkan sebuah hadits yang berbunyi

Dengan demikian dianjurkan kepada ahli yang ditinggalkan untuk banyak-banyak bersabar pada hari tersebut. Adapun menghadiri panggilan pada hari-hari berikutnya seperti hari ke 3, 7, 9, 40,100 dan 1 tahun (haul) bukan untuk berkumpul makan dan menyebut-nyebut sifat kebaikan si mayat (nianah) ataupun menyebut sifat-siafat keberanian dan kemegahan si mayat (tapakhur) akan tetapi untuk mengadakan tahlil / zikir dan do’a kepada si mayat. Terhadap keluarga yang mengadakan semacam itu termasuk dalam kalimat

Atau
Sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh Imam Muslim:

Arti dari (    ) apakah ia berdo’a dengan sendirinya atau ia minta do’a kepada orang lain dengan jalan da’wah / memanggil. Kemudian jamuan yang diberikan terhadap tamu-tamu tersebut termasuk pula tasadduk anil mayyit dan tasyakur dari ahli mayit kepada Allah SWT dengan sebab kedatangan mereka yang telah memenuhi undangannya tersebut

Kemudian bagi orang yang menerima tasadduk itu apakah ia salah ?, tentunya tidak, karena yang demikian itu atas dasar keihlasan mereka dan merupakan rizki dari Allah SWT
Kesimpulan :
1.      Nelung, Mituk, Nyiwak dan seterusnya termasuk tasadduk anil mayit. ( boleh )
2.      Ibarat yang mengatakan bid’ah makrubah adalah benar, dengan dasar ada illatnya.
3.      Kalau illat sudah tidak ada maka hukum makruh itu hilang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar